Relokasi PKL Penataan Malioboro Tetap Berlanjut
KRJOGJA.COM | 11/02/2022 15:33
Relokasi PKL Penataan Malioboro Tetap Berlanjut

YOGYA, KRJOGJA.com – Usai relokasi PKL penataan Malioboro akan tetap berlanjut. Terutama menyangkut penataan fisik guna merangkum lintasan sejarah Malioboro agar mampu tersaji pada kondisi saat ini. Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, mengatakan koordinasi dengan Pemda DIY masih terus dilakukan agar Malioboro semakin menarik untuk dikunjungi.

“Setelah pemindahan PKL dari lorong-lorong menuju teras Malioboro, tidak lantas berhenti. Jadi kalau bicara tentang Malioboro sekarang ini masih koma, kita belum mencapai titik,” katanya.

Diakuinya, setelah lorong-lorong terbebas dari PKL, kini fasad bangunan mulai terlihat jelas. Termasuk sisi bangunan yang kotor, kusam atau fasilitas yang rusak. Ketika masih terdapat PKL, hal-hal tersebut tidak terlihat.

Oleh karena itu langkah awal penataan ialah dengan melakukan perbaikan fasad, termasuk jalur pedestrian maupun kawasan di lorong Malioboro. Di samping itu, akan ada pembaruan aturan berupa peraturan walikota (perwal) yang mengatur fasad Malioboro.

Tembok asli yang kini banyak tertutup oleh cover atau papan toko, akan diatur secara lebih teknis. Salah satunya ukuran papan nama di sepanjang toko dibatasi maksimal 1 x 1,5 meter.

“Dari aspek fisik akan kita minta cover yang menutup tembok itu diturunkan supaya wajah aslinya itu terlihat. Sejumlah fasilitas juga akan ditambah seperti kursi, sarana air minum dan lainnya,” imbuh Heroe.

Sementara penataan non fisik juga bakal dilakukan. Terutama untuk menghadirkan lintasan sejarah Malioboro dalam satu masa pada saat ini. Heroe menjabarkan, pada era tahun 1960an Malioboro sempat menjadi pusat ekonomi atau perdagangan karena mengawali deretan pertokoan.

Banyak masyarakat yang menyerbu Malioboro untuk mencari kebutuhan pakaian, sepatu maupun barang rumah tangga. Hal ini karena pada saat itu belum terdapat pusat perbelanjaan atau mal yang menyebar seperti sekarang.

Selain itu, Malioboro dalam lintasan sejarah juga menjadi pusat aktivitas seni dan budaya. Tidak sedikit para mahasiswa yang melakukan praktek seni budaya di Malioboro. Hingga banyak seniman dan budayawan kenamaan yang tumbuh dari Malioboro.

Pada masa kini, Malioboro pun menjadi pusat oleh-oleh karena seolah menjadi destinasi wajib bagi setiap wisatawan yang datang ke Yogyakarta. “Kita akan jadikan Malioboro sebagai panggung seni budaya terpanjang, pusatnya pemenuhan kebutuhan serta pusatnya oleh-oleh. Jadi lintasan sejarah Malioboro akan terangkum dan dapat dirasakan pada Malioboro saat ini,” jelasnya. 

krjogja.com


BERITA TERKAIT