Nama Ayah Taufik Ismail Dijadikan Jalan di Pekalongan
KRJOGJA.COM | 18/05/2022 14:38
Nama Ayah Taufik Ismail Dijadikan Jalan di Pekalongan

PEKALONGAN, KRJOGJA.com – Peresmian Jalan KH Gaffar Ismail di Kota Pekalongan oleh walikota Pekalongan HA Adzan Arslan Djunaid diwarnai dengan pembacaan puisi oleh Taufik Ismail yang merupakan anak dari almarhum KH Gaffar Ismail, Senin (16/05/2022).

Puisi dengan judul ‘Sajadah Panjang’ yang dipopulerkan sebagai salah satu lagu dari Bimbo itu membuat para tamu undangan di antaranya Walikota dan Ketua DPRD khusuk menyimak. Terlebih pada kesempatan itu puisi diterjemahkan dalam bahasa Arab yang dibacakan Rahmat Ismail (adik Taufik) dan bahasa Inggris yang diterjemahkan cucu Taufik Ismail Arsala Rania. Puisi itu sendiri telah diterjemahkan dalam 12 bahasa di dunia.

Walikota Pekalongan dalam sambutannya usai menandatangani prasasti peresmian jalan mengatakan bahwa inisiatif pengantian jalan itu tidak lain merujuk pada kearifan lokal.

“Saat ini ada 12 jalan yang diganti namanya dengan tokoh-tokoh yang berjasa untuk Kota Batik Pekalongan. Seperti halnya Jalan Bandung dimana di ujung jalan itu terdapat rumah KH Abdul Gaffar Ismail yang digunakan hampir 50 tahun untuk berdakwah. Dihilangkanya nama Jalan Bandung dinilai tidak ada masalah mengingat di Bandung sendiri tidak ada Jalan Pekalongan,” ujar Aaf sebutan akrab walikota Pekalongan yang disambut gelak tawa seluruh tamu undangan.

Taufik Ismail bersama adiknya Ida Ismail dan Rahmat Taufik mewakili Yayasan Gaffar Ismail (Yagis) mengucapkan terima kasih kepada Walikota Pekalongan dengan penggunaan nama ayahnya sebagai jalan di dekat rumah dakwah orang tuanya. “Kami semua keluarga merasa terharu dan gembira,” ucap Taufik Ismail.

Pada kesempatan itu Taufik Ismail menceritakan sekilas tentang kiprah ayahnya sebagai seorang ulama, tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan. Sang Ayah yang berasal dari Jambu Air Bukittinggi menuntut ilmu di Thawalib Parabek Bukittinggi. Salah satu kawan sekolahnya adalah Hamka. Mereka merupakan murid Syekh Ibrahim Musa yang berguru kepada Syekh Achmad Chatib di Mekah bersama dengan Syech Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Dahlan.

Sebagai tokoh pergerakan tahun 1930, Gaffar dikenal sebagai ‘Singa Mimbar’. Aktivitas dalam pergerakan membuat ia diusir dari Minangkabau. Selanjutnya, pada 1934, Gaffar yang saat itu baru menikah diasingkan ke Pekalongan. Tidak terduga, di kota batik ini ia disambut oleh para tokoh setempat termasuk kakek walikota Pekalongan saat ini yakni HM Djunaid.

Ghaffar aktif dalam berbagai aktivitas pergerakan. Ia melakukan komunikasi dengan Bung Karno bahkan sempat diminta untuk membujuk Khahar Muzakar. Ia juga ditugasi untuk melakukan pengadaan senjata dengan cara menjual 210 ton karet, gula, dan vanila menggunakan kapal Pinisi asal Makassar ke Singapura. Senjata itu diterima oleh Jenderal Kemal Idris di pelabuhan Juana Jawa Tengah.

Selanjutnya Gaffar akhirnya menetap di Pekalongan dan melakukan dakwah bersama istrinya Tinur yang dikenal dengan pengajian Pemasa (Pengajian Malam Selasa).

 

krjogja.com


BERITA TERKAIT