Tersangkut Kasus Suap Bowo Sidik, Mengapa Golkar Ajukan Tetty Paruntu Jadi Calon Menteri?
JAMBERITA.COM | 23/10/2019 17:18
Tersangkut Kasus Suap Bowo Sidik, Mengapa Golkar Ajukan Tetty Paruntu Jadi Calon Menteri?

JAMBERITA.COM, JAKARTA - Panjaringan nama calon menteri untuk kabinet Jokowi sudah berakhir dengan dilantiknya 38 orang anggota Kabinet Indonesia Maju pada Rabu 23 Oktober 2019. Namun proses penyusunan kabinet tersebut masih menyisakan drama, salah satunya adalah soal  Bupati Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Christiany Eugenia Paruntu atau lebih dikenal sebagai Tetty Paruntu.

Saat tiba di  Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019, Tetty datang dengan mengenakan kemeja putih. Hal ini sama dengan para calon menteri lainnya yang datang seperti Mahfud MD, Nadiem Makarim, Erick Thohir, Wishnutama, dan Airlangga Hartarto.

Begitu Tetty Paruntu melewati pintu gerbang dalam Istana, pihak protokol meminta Tetty menunggu sejenak di holding room.

Namun, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi batal bertemu dengan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu. Meski Tetty sempat masuk ke Kompleks Istana Kepresidenan, ia tidak sampai bertemu dengan Jokowi.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Fadjroel Rachman membenarkan jika Istana sempat mengundang Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu untuk datang sebagai salah satu calon menteri pada Senin, 21 Oktober 2019.  

"Diakui memang diundang, disampaikan melalui WA (WhatsApp) tapi kemudian ada sejumlah pertimbangan terkait dengan prinsip kehati-hatian," kata Fadjroel di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019.

Menurut dia, Tetty batal menjadi menteri karena pernah diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang menjerat politikus Partai Golkar Bowo Sidik Pangarso. "Terutama soal pemanggilan beliau," ujarnya. Pemanggilan yang dimaskud adalah pemeriksaan Tetty di KPK sebagai saksi terdakwa Bowo Sidik Pangraso.

Ia menuturkan ada miskomunikasi terkait pemanggilan dan penelusuran rekam jejak politikus Partai Golkar itu. "Memang tampaknya ada komunikasi yang sudah dilakukan sebelumnya tapi itu tidak hanya terkait dengan Pak Pratikno tapi juga dari pihak partai," ucapnya.

Tetty sempat mengklarifikasi dua kasus hukum yang menimpanya kepada Pratikno yang terlibat dalam tim yang memebantu Presiden Jokowi menyusun kabinet.  

Menurut Tetty, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto  datang saat dirinya bicara dengan Pratikno. Tapi Tetty membantah Airlangga datang untuk menyuruhnya pulang. Dia ke Istana dalam rangka memenuhi panggilan Presiden juga sebagai calon anggota Kabinet. Justru Airlangga turut membantunya menjelaskan mengenai tuduhan itu.

Ketika pulang, Tetty tidak melewati jalan yang sama ketika datang ke Istana. Dia pulang lewat samping. Maka simpang siurlah pemberitaan mengenai kedatangan Tetty di Istana. Ia tentu saja sedih mengikuti pemberitaan media dengan berbagai versi. Ada yang menulis, seakan Tetty tamu yang tak diundang di Istana.

“Saya itu diminta datang oleh Pak Pratikno. Ini masih saya simpan pesannya di WhatsApp. Pesan beliau masuk pukul 22.27 WIB. Emangnya saya gila datang ke Istana tanpa diundang,” cerita Tetty yang berada di Jakarta pekan lalu.

Menurut Tetty, dia diusulkan secara resmi oleh Partai Golkar untuk menjadi anggota Kabinet Jokowi -Ma’ruf. Yang mengusulkan kepada Presiden Jokowi Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.

“Saya diberitahu Pak Ketum di kantor Golkar tiga hari lalu, waktu itu hari Jumat. Pak Airlangga menyampaikan bahwa Tetty termasuk dari empat nama dari Partai Golkar yang diusulkan menjadi anggota kabinet. Tiga lainnya, Pak Zainuddin Amali, Pak Agus Gumiwang, dan Pak Airlangga sendiri. Saya tidak pernah minta-minta untuk diutus Partai Golkar. Catat itu Bang, “ sambung Tetty.

Tetty mengaku betapapun tak mengenakkan, tidak kecewa oleh kejadian Senin siang itu. Baginya, yang terlenting apa yang terbaik buat Presiden Jokowi, akan didukungnya. “ Saya kan bukan orang yang tidak punya pekerjaan,” ujar Tetty yang sebelumnya tergabung dalam tim sukses Gojo, Golkar-Jokowi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu pernah diperiksa dalam kasus suap anggota DPR Bowo Sidik Pangarso.

"Yang bersangkutan memang pernah diperiksa sebagai saksi di proses penyidikan dan persidangan," kata juru bicara KPK, Febri Diansyah, Senin, 21 Oktober 2019.

KPK memeriksa Tetty dalam proses penyidikan kasus suap Bowo Sidik pada 26 Juni 2019. Dalam dakwaan KPK, Bowo disebut menerima suap sebesar Rp 2,6 miliar terkait kerja sama pengangkutan pupuk dan gratifikasi senilai Rp 7,7 miliar terkait jabatannya sebagai pimpinan Komisi VI DPR.

Febri mengatakan saat itu KPK memeriksa Tetty untuk menelusuri dugaan sumber gratifikasi yang diterima Bowo Sidik. Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta 25 September 2019, Bowo mengakui menerima duit dari Tetty. Bowo mengatakan duit itu diterima dalam amplop coklat lewat rekannya di Golkar.

JAMBERITA.COM | TEMPO.CO

  


BERITA TERKAIT