Mahasiswa Unjuk Rasa Online saat Pandemi Covid-19, Tuntut Keringanan Uang Kuliah ke Rektor Universitas Jambi
JAMBERITA.COM | 04/06/2020 17:01
Mahasiswa Unjuk Rasa Online saat Pandemi Covid-19, Tuntut Keringanan Uang Kuliah ke Rektor Universitas Jambi

JAMBERITA.COM- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jambi (Unja) menggelar aksi ditengah Pandemi Corona Virus Disease (Corona) Covid-19 melalui Daring, Kamis (4/6/2020).

Aksi cerdas melalui media sosial (Medsos) tersebut dilakukan menginggat masih mewabahnya corona virus khsusnya di wilayah dalam Provinsi Jambi sehingga mereka tidak melakukan Demontrasi di lapangan untuk mecegah menghindari kerumunan orang banyak dan memutus mata rantai.

Diutarakan Presiden Mahasiswa Unja Ardy Irawan, BEM Keluarga Besar Mahasiswa Unja mendesak Rektor segera merealisasikan Subsidi Kuota sesuai dengan surat Kemendikbud No. 302/E.E2/KR/2020 dan No. 331/E.E2/KM/2020.

Menurutnya, itu berhubungan dengan tidak didapatkannya fasilitas yang harusnya didapatkan dalam proses perkuliahan sejak ditetapkannya pembelajaran Daring dan bekerja dari rumah akibat pandemi."Maka kami menuntut kepada bapak Rektor untuk memberikan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada seluruh Mahasiswa UNJA," tegasnya.

Besar harapan mereka, tuntutan diatas dapat di realisasikan oleh Rektor untuk dapat membantu perekonomian dan menunjang pendidikan mahasiswa UNJA, karena Covid-19 bukan hanya memberikan dampak buruk secara ekonomi, sosial tetapi juga berdampak buruk kepada Pendidikan Indonesia.

"Sejak Maret 2020 pemerintah memberikan instruksi untuk meliburkan semua aktivitas pembelajaran di sekolah maupun di seluruh perguruan tinggi yang ada yang berakibat kepada sistem pembelajaran daring, Hal ini juga berlaku di Unja di mana Rektor memberikan instruksi untuk setiap pembelajaran, praktikum bahkan tugas akhir dulakukan secara daring," katanya.

Ardy mengatakan, tidak sedikit mahasiswa UNJA yang mengeluhkan hal ini, dimulai dari sistem perkuliahan yang tidak efektif dan juga pemborosan paket kuota yang berdampak kepada ekonomi masing-masing mahasiswa, dikarenakan harus selalu menggunakan aplikasi visual untuk melakukan proses pembelajaran.

"Ini membuat mahasiswa merasa riskan sekali, ditengah pandemi ini kebijakan-kebijakan yang mengharuskan para orang tua mahasiswa harus tetap berada dirumah karena tidak bisa bekerja bahkan tidak sedikit yang di PHK dari pekerjaannya, tetapi harus menambah beban secara ekonomi," bebernya.

Pada saat ini masa perkuliahan semester genap 2019/2020 telah berkahir dan akan memasuki perkuliahan semester ganjil 2020/2021, hal ini menandakan bahwa sebentar lagi akan ada tanggungan UKT yang harus dibayar."Ini cukup memberatkan mahasiswa UNJA dikarenakan perekonomian sedang tidak baik-baik saja," tuturnya.

Menurut Ardy, berdasarkan data dari Kementerian Tenaga Kerja (Menaker) per akhir April 2020 mencatat ada 2.084.593 pekerja yang dirumahkan oleh perusahaan, belum lagi para petani yang kesulitan dalam mendistribusikan hasil taninya ke pasar-pasar, para pedagang yang kesulitan mencari dan menjual barang-barangnya mengakibatkan berkurangnya penghasilan bulanan setiap keluarga masyarakat.

"Ini merupakan catatan pertimbangan yang perlu diperhatikan oleh birokrasi kampus sebagai pengambil kebijakan atas kesulitan mahasiswa-mahasiswanya," sebutnya.

Pembelajaran jarak jauh tentu membuat mahasiswa tidak lagi menggunakan fasilitas kampus, selain itu mereka juga harus menanggung sendiri biaya pembelian paket kuota dan ini merupakan keharusan dari birokrasi kampus untuk mengambil kebijakan atas pemberian subsidi kuota dan keringanan UKT untuk mahasiswa UNJA.

"Hal ini sudah sesuai dengan instruksi dari Kemendikbud RI dibawah ini: Surat Edaran (SE) No. 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Covi-19 pada tanggal 17 Maret 2020," ujarnya.

Akibatnya, sejak saat itu ditindaklanjuti di masing-masing perguruan tinggi mahasiswa tidak lagi beraktivitas dilingkungan kampus dan tidak mendapatkan fasilitas pembelajaran yang seharusnya didapatkan selama kuliah tatap muka hingga berakhirnya Semester Genap 2019/2020.

"Kondisi yang demikian membuat pemenuhan atas biaya kuliah yang telah dibayarkan oleh mahasiswa menjadi tidak seimbang dengan kewajiban yang harus dipenuhi perguruan tinggi, sehingga kompensasi biaya kuliah sangat diperlukan mengingat kuliah daring menghemat biaya operasional perguruan tinggi," bebernya.

Surat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 302/E.E2/KR/2020 pada tanggal 31 Maret 2020 tentang Masa Belajar Penyelenggaraan Program Pendidikan yang tertuju kepada seluruh pimpinan PTN/PTS, bahwasanya Kemendikbud menghimbau perguruan Tinggi untuk dapat memantau dan membantu kelancaran mahasiswa dalam melakukan pembelajaran dari rumah.

"Penghematan biaya operasional penyelenggaraan pendidikan yang diperoleh selama dilakukan pembelajaran dari rumah, mohon dapat digunakan untuk membantu mahasiswa, seperti subsidi pulsa, koneksi pembelajaran daring, bantuan logistic, dan kesehatan bagi yang membutuhkan," tambahnya.

Ardy menjelaskan, surat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 331/E.E2/KM/2020 pada tanggal 06 April 2020 yang tertuju kepada Pimpinan Perguran Tinggi Negeri (PTN) yang salah satu perguruan tinggi di dalam lampiran adalah Universitas Jambi bahwasanya dalam rangka memfasilitasi mahasiswa untuk fokus belajar di rumah.

Maka pimpinan PTN dapat memberikan bantuan sarana pembelajaran daring bagi mahasiswa yang membutuhkan dengan salah satu bantuan sarana tersebut adalah memberikan bantuan pulsa kepada mahasiswa."Namun sangat disayangkan di Universitas Jambi hingga saat ini tidak ada kejelasan dari birokrasi berkaitan dengan subsidi kuota dan juga keringanan (UKT) untuk mahasiswa Unja," katanya.(afm)

JAMBERITA.COM


BERITA TERKAIT