Setelah 401 Tahun, Basudara Wandan Tiba di Banda Neira Lewat Muhibah Jalur Rempah
TERASMALUKU.COM | 17/06/2022 15:00
Setelah 401 Tahun, Basudara Wandan Tiba di Banda Neira Lewat Muhibah Jalur Rempah

TERASMALUKU.COM,-BANDA NEIRA – Sekitar 150 orang Banda Eli yang berhimpun dalam rombongan Basudara Wandan, yang bertolak dari Pelabuhan Tual menggunakan Kapal Pelni KM Ngapulu, tiba di Pelabuhan Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (16/6/2022) pagi.

Ini menjadi catatan sejarah, bahwa setelah 401 tahun, sejak leluhur orang Banda Eli/Wandan terusir dari Kepulauan Banda akibat ulah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda, Kamis (16/6/2022) anak cucunya kembali hadir di tanah Banda.

Ada haru dan air mata, begitu rombongan Raja Wandan Haji Udin Latar dan para sesepuh masyarakat Banda Eli serta anggota DPRD Maluku Amir Rumra dan seratusan warga menjejakkan kaki di Pelabuhan Banda Neira.

Kehadiran mereka untuk melakukan napak tilas sejarah, sekaligus menjalin tali silaturahmi serta mempererat hubungan kekerabatan “Orang Basudara” dengan saudaranya yang menetap di Banda ini.

Rombongan ini adalah keturunan langsung dari sekitar 300 orang asli Kepulauan Banda yang selamat dari pembantaian VOC Tahun 1621.

Kehadiran mereka langsung disambut upacara adat masyarakat Banda serta pementasan tarian cakelele. Bahkan situasi emosional penuh tangis haru turut mewarnai pertemuan diatas jembatan Banda Neira ini.

Kedatangan orang Wandan ini merupakan sebuah agenda penting dari rangkaian kegiatan nasional Muhibah Budaya Jalur Rempah Tahun 2022, yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, sebagai upaya mempertemukan kembali masyarakat Banda Eli dan masyarakat Banda Neira.

Muhibah Budaya Jalur Rempah Tahun 2022 yang menyinggahi sejumlah titik jalur rempah di tanah air, diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan akan jati diri daerah-daerah di Indonesia dan memperkuat jejaring interaksi budaya antar daerah sehingga memperteguh ikatan ke-Indonesia-an.

“Penjajah memisahkan kita tetapi Jalur Rempah mempersatukan kita,” ujar Staff Ahli Dirjen Kebudayaan Lefidus Malau, dalam sambutan mewakili pihak Kemendikbudristek.

Secara lantang di atas jembatan Banda Neira, Udin Pasole Rumra berujar, “Selama 400 tahun keluarga Wandan ada di Kei, dan hari ini momentum yang sangat besar untuk kumpul bersama Basudara di sini.”

“Kemudian nenek moyang kita ada di Lontor, ada Salamun ada di Run, ada di Ay, dan semua pulau yang ada di Banda. Oleh karena itu hari ini sejarah membuktikan generasi ini membuat sesuatu yang baru, bahwa hari ini silahturahmi antara Wandan Asli dengan yang ada di Banda Neira. Terimakasih,” ungkapnya.

Pada kegiatan nasional Muhibah Budaya Jalur Rempah Tahun 2022 yang digagas oleh Departemen Pendidikan, Riset dan teknologi melalui Dirjen Kebudayaan yang juga menggandeng TNI Angkatan Laut RI ini, semua peserta komunitas Wandan asal Banda Eli kepulauan Kei itu ditampung pada rumah-rumah orang Banda saudaranya tanpa ada keberatan ataupun penolakan.

“Kami setuju untuk tinggal langsung pada rumah basudara Banda di sini supaya bisa terbangun tali silahturahmi, hubungan Basudara yang sudah lama terpisah selama 500 tahun ini,” ungkap Muhamad Adriansyah Alham Rumra (22), seorang generasi muda anak cucu Wandan kediaman Kota Ambon, yang turut mengikuti kegiatan ini.

Senada dengan Alham Rumra, Isra Prasetya Idris Ketua Persatuan Banda Muda (PERBAMU) juga sangat mendukung adanya niat tulus masyarakat asli Banda yang rumahnya digunakan untuk menampung tamu dari Banda Eli ini.

“Saya setuju, dan bersuka cita karena Basudara dari Banda Eli mau tinggal dirumah saudaranya masyarakat Banda selama kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah tahun 2022 ini dilaksanakan disini, Kita PERBAMU bantu mengkoordinir rumah yang digunakan, dan semua basudara disini sukarela untuk mendukung hal ini,” ungkap pengusaha muda ini.

Meskipun leluhurnya terusir dari Banda pada 1621 namun tak ada secuil dendam apapun yang tersimpan dalam nurani orang Wandan kepada praktek kejam Kolonialisme VOC 4 abad silam yang diderita oleh leluhur hingga anak cucu orang Wandan.

“Seng (tidak) ada dendam apapun untuk Belanda ataupun VOC,” ungkap Muhamad Adriansyah Alham Rumra (22).

Generasi muda anak cucu Wandan yang berkediaman tetap di kota Ambon ini turut mengikuti kegiatan ini supaya tidak buta sejarah nenek moyangnya.

Ia pun turut mengapresiasi kegiatan ini serta berharap agar pemerintah terus menyelenggarakannya setiap tahun.

 

terasmaluku.com


BERITA TERKAIT