Bencana Kelaparan di Seram, Tikus dan Babi Hutan Memakan Habis Hasil Kebun Suku Mausu Ane
TERASMALUKU.COM | 25/07/2018 10:05
Bencana Kelaparan di Seram, Tikus dan Babi Hutan Memakan Habis Hasil Kebun Suku Mausu Ane
Warga suku Mausu Ane yang mengalami kelaparan di pedalaman Pulau Seram Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Musibah kelaparan dihadapi warga suku Mausu Ane yang tinggal di pedalaman hutan Pulau Seram tepatnya di petuanan Negeri Maneo Kecamatan Seram Utara Kobi Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Kondisi kelaparan ini ternyata sudah mereka alami sejak awal Juli 2018 lalu.

Selama kurang lebih dua minggu atau sejak awal Juli 2018, 45 kepala kelurga (KK) dengan 175 jiwa warga Mausu Ane yang hidup nomaden alami bencana kelaparan. Dua orang balita dan seorang lansia meninggal dunia akibat bencana kelaparan itu. Mengapa kelaparan ini bisa terjadi?

Baca juga: Dinilai Buang Anggaran, Anggota DPRD Minta Pemkot Ambon Batasi Membangunan Pasar di...

Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malteng Syahril Tuakia kepada Terasmaluku.com mengungkapkan kelaparan terjadi karena warga tidak bisa makan hasil kebun sebab dimakan tikus dan babi hutan. Stok makanan yang tersedia bebas dialam berkurang. Itu lantaran adanya hama tikus yang memakan habis semua hasil kebun warga. Ubi ubian yang ditanam ludes dimakan tikus. Belum lagi hama babi hutan.

Hasil kebun yang ditanam warga di dalam hutan perlahan habis. Stok makanan mereka pun kian terbatas selama dua minggu belakangan. Syahril mengatakan dari pengakuan warga, mereka bertahan hidup dengan mengonsumsi sumber makanan lain. Seperti dedaunan dan akar rotan. Sayangnya energi dari dedaunan dan akar tak cukup memenuhi kebutuhan mereka.

“Mayarakat yang meninggal dunia tiga orang, satu orang Lansia dan dua orang anak balita. Mereka meninggal pada 7 Juli lalu. Kondisi masyarakat mengalami busung lapar dan gangguan kesehatan. Masyarakat mengalami kekurangan bahan pangan,” kata Kepala Seksi Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Malteng  Syahril Tuakia saat dihubungi Terasmaluku.com, Senin (23/7/2018) petang.

Baca juga: Gubernur : Waspadai Ancaman Penyakit Paru

Syahril sendiri bertemu langsung dengan warga Mausu Ane. Syahril menempuh perjalanan tiga jam dari Kobisonta menuju wilayah M Transmigrasi dan dilanjutkan ke lokasi terdekat untuk bertemu sebagian warga Mausu Ane.

Secara geografis, Suku Mausu Ane menempati tiga lokasi terpisah di bantaran tiga sungai. Yakni di Sungai Kobi, Laihaha dan Tilupa. “Jadi kalau air mereka tidak kesusahan. Hanya bahan makan saja yang krisis,” jelasnya. Kabar kematian warga Mausu Ane ini disampaikan kepada pihaknya melalui Raja Maneo.

TERASMALUKU.COM


BERITA TERKAIT