Wajah Sarpan Bonyok Diduga Dianiaya Oknum Polisi, LBH Medan: Komnas HAM HarusTurun Tangan
MEDANHEADLINES.COM | 09/07/2020 14:51
Wajah Sarpan Bonyok Diduga Dianiaya Oknum Polisi, LBH Medan: Komnas HAM HarusTurun Tangan

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Lembaga bantuan Hukum (LBH) Medan angkat bicara terkait adanya dugaan penyiksaan yang dilakukan oleh oknum Polisi di Polsek Percut Sei Tuan terhadap Sarpan (59)

Dari informasi yang diperoleh, Sebelumnya telah terjadi tindak pidana Pembunuhan terhadap Dodi Sumanto Als. Dika yang dilakukan oleh A (24) pada kamis 02 Juli 2020.

Atas peristiwa tersebut sarpan dibawa kekantor Polsek Percut sei tuan untuk dimintai keterangan. Namun karena Sarpan tak kunjung dipulangkan yang ditahan di Polsek Percut Sei Tuan selama lima hari dan Sarpan juga mengalami kekerasan akhirnya warga melakukan aksi untuk meminta agar sarpan dikeluarkan. 

Mendapat informasi ini, LBH medan juga telah melakukan Kunjungan langsung dengan bertemu korban Sarpan pada Selasa, 7 Juli 2020, bersama beberapa orang lain.

"Berdasarkan investigasi, Sarpan membenarkan Penahanan yang dialaminya. Awalnya Sarpan bersama korban Dodi Sumanto alias Dika sedang melakukan sebuah pekerjaan sebuah bangunan dan pada saat melakukan pekerjaan tersebut beberapa kali Dika sempat mengantarkan adukan semen kepada Sarpan. Setelah beberapa kali mengantar adukan semen, Dika tak kunjung datang, akhirnya Sarpan keluar dari kamar dan saat membuka pintu sarpan melihat Dika tergeletak berlumuran darah bahkan Sarpan juga sempat melihat pelaku A menghabisi korban," kata Divisi Buruh dan Miskin kota LBH Medan Maswan Tambak melalui keterangan persnya.

Setelah menghabisi korban, pelaku juga sempat mengancam Sarpan sehingga ia masuk ke sebuah ruangan dengan menutup pintu sambil berteriak minta tolong. Tidak lama kemudian datanglah ibu pelaku. "Setelah itu Sarpan keluar dan meminta pertolongan warga,” ujarnya. 

Setelah meminta pertolongan warga, tambahnya, Sarpan memperoleh informasi dari seorang wanita bahwa Dika sudah meninggal. Mendengar berita tersebut, sarpan pun lemas dan tergeletak sampai harus dibawa warga ke satu tempat dimana saat itu sarpan sempat diberi minum. Kemudian ada yang membawa sarpan dengan becak ke rumahnya dan Setelah sampai diumah, sarpan kembali ke TKP.

Setelah sampai di TKP, Sarpan dibawa ke Polsek Percut Sei Tuan. Setelah sampai di Polsek, Sarpan diinterogasi. Pada malam harinya sekitar pukul 02.00 atau pukul 03.00 dinihari, Sarpan dibawa ke TKP lalu setelah selesai dari TKP, Sarpan dan petugas kepolisian kembali ke Polsek.

Pada siang harinya sarpan kembali diperiksa. Saat diperiksa, setiap jawaban sarpan selalu disangkal oleh oknum yang memeriksa. Kemudian sarpan ditahan kembali, lalu pada malam harinya sarpan kembali diperiksa disebuah ruangan dimana saat itu mata sarpan dilakban, dengan posisi jongkok lutut sarpan menjepit sebuah kayu.

Saat sarpan menjawab pertanyaan oknum yang memeriksa, sarpan justru dipukul dan di tendang. Tidak hanya wajah, sarpan juga mengalami penganiayaan pada bagian badan dan kepala. Sarpan juga sempat disuruh mengangkat tangan kiri, dimana setelah mengangkat tangan kirinya sarpan justru dipukul beberapa kali dengan alat yang tidak diketahui persis oleh sarpan. setelah sarpan diinterogsi dan disiksa, pemeriksaa dihentikan.

Kemudian pada pagi harinya, sarpan kembali diinterogasi dengan keadaan mata tidak di lakban, saat itu oknum tersebut mengajukan pertanyaan kepada sarpan namun setelah menjawab, sarpan kembali disiksa dengan dipukuli dan ditendangi secara bertubi-tubi. Parahnya lagi oknum tersebut semakin emosi kepada sarpan sehingga oknum tersebut menyetrum pada bagian leher sarpan.

”Bahwa atas peristiwa tersebut, Sarpan telah membuat Laporan Polisi berdasarkan Nomor STTP/1643/VII/Yan 2.5/2020/SPKT Polrestabes Medan tertanggal 06 Juli 2020 dimana laporan tersebut dibuat setelah Sarpan dikeluarkan dari Polsek Percut Sei Tuan. Perlu disampaikan bahwa Sarpan juga dibebaskan karena adanya desakan dari massa aksi,” ujar Maswan

Menambahi Maswan, Direktur LBH Medan Ismail Lubis Menduga ada keterlibatan oknum dalam melakukan penyiksaan terhadap Sarpan.

”Tindakan tersebut tentu melanggar hak asasi manusia sarpan untuk bebas dari segala bentuk penyiksaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 05 Tahun 1998 Tentang Pengesahan konvensi menentang penyiksaan dan perlakuan atauu penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau mereendahkan harkat martabat manusia. tidak ada dasar hukum yang membenarkan dan urgensi seorang saksi harus ditahan selama 5 (Lima) hari dan diperiksa pada malam hari dengan penuh intimidasi,” kata dia.

Oleh karena hal tersebut diatas, LBH Medan menilai telah terjadi kejahatan sistematis yang melanggar ketentuan Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang Dasar 1945, Pasal 3 Ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak asasi Manusia, Pasal 9 Deklarasi Universal Tentang Hak Asasi Manusia dan ketentuan Perkap Nomor 08 tahun 2009 tentang Implementasi prinsip dan standart Hak Asasi Manusia dalam penyelenggaraan tugas kepolisian negara Republik Indonesia.

”LBH Medan meminta agar Laporan polisi Sarpan tersebut ditindaklanjuti dengan serius untuk membuktikan kejahatan yang diduga dilakukan oleh oknum polsek percut sei tuan, selain memproses hukum dalam konteks pidananya, kami berharap agar Kapolda Sumut, Kabid Propam Polda Sumut dan Kabag Wassidik Polda sumut serta jajaran lain yang berwenang dapat segera melakukan pemeriksaan terhadap jajaran Polsek Percut Sei Tuan yang diduga terlibat dalam penyiksaan sarpan demi terciptanya penegakan hukum yang adil dan berkepastian," katanya. Dan hal yang tidak kalah penting agar tidak ada pengulangan peristiwa yang sama terhadap masyarakat lainnya.

Menurutnya, selain lembaga internal kepolisian, penting juga kiranya untuk KOMNAS HAM terlibat dalam kasus ini melihat peristiwa pelanggaran atau kejahatan dilingkungan kepolisian bukan kali pertama terjadi. (red)

MEDANHEADLINES.COM


BERITA TERKAIT