KEK Galang Batang Penopang Ekonomi Indonesia, Investasi Rp 18 Triliun Sudah Masuk ke BAI
HARIANKEPRI.COM | 24/01/2022 18:01
KEK Galang Batang Penopang Ekonomi Indonesia, Investasi Rp 18 Triliun Sudah Masuk ke BAI
Batuan granit berukuran besar menjadi ciri dari Pantai Trikora yang berada di Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepri. (shutterstock.com)
Senior Advisor PT BAI KEK Galang Batang, Purba Robert Sianipar memaparkan progres pengembangan KEK Galang Batang-f/zulfikar-hariankepri.com

TANJUNGPINANG (HAKA) – Sejak resmi beroperasi pada 8 Desember 2018 lalu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Kabupaten Bintan, menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

KEK Galang Batang yang dikelola oleh PT Bintan Alumina Indonesia (BAI), menjadi salah satu proyek strategis nasional. Hal itu berdasarkan Peraturan Pemerintah 40 tahun 2021, yang merupakan turunan dari Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Senior Advisor PT BAI KEK Galang Batang, Purba Robert Sianipar mengatakan, KEK Galang Batang selama ini telah menjadi KEK unggulan di Indonesia.

Karena, kata dia, mulai dari perencanaan hingga realisasi produksi, KEK ini menjadi yang tercepat dibandingkan 19 KEK lainnya di Indonesia.

“Oleh karena itu KEK Galang Batang perlu menjaga kepercayaan ini. Maka, KEK ini akan menjadi salah satu mesin penggerak perekonomian di Pulau Bintan, bahkan bisa menyaingi Batam,” katanya, Minggu (23/1/2022).

Purba mengutarakan, KEK Galang Batang, merupakan, investasi dengan Penanaman Modal Asing (PMA). Adapun investor asing yang menanamkan modalnya di kawasan itu berasal dari Nangsang, China, dengan total investasi secara keseluruhan sebanyak Rp 70 triliun.

Industri utama yang dikembangkan di KEK ini yakni, industri pengolahan alumina atau bahan baku alumunium dan alumunium batangan (ingot).

“Dari total rencana investasi itu, untuk tahap pertama investasi yang akan ditanamkan sebanyak Rp 36,7 triliun sampai tahun 2027, dan sampai dengan Januari 2022 investasi yang sudah terealisasi di kawasan itu sebanyak Rp 18 triliun,” jelasnya.

Mantan Staf Ahli Menko Perekonomian ini menjelaskan, investasi tahap pertama itu, akan difokuskan untuk pengembangan smelter alumina dan juga smelter alumunium ingot.

Sejauh ini, pihaknya, telah berhasil menyelesaikan, pembangunan smelter alumina untuk memproduksi sebanyak 1 juta ton alumina.

“Sekarang sedang dikebut pembangunan untuk penambahan smelter 1 juta ton, pertengahan tahun ini sudah selesai. Sehingga Juli 2022 sudah bisa beroperasi 2 juta ton pertahun,” tuturnya.

Kemudian, lanjutnya, di akhir tahun 2024 atau di awal 2025, juga akan diselesaikan pembangunan smelter alumunium, untuk memproduksi 250 ribu ton alumunium ingot.

Dia mengatakan, pembangunan smelter alumunium ingot itu akan dilakukan secara bertahap. Dengan rincian, 250 ribu ton di tahun 2025, 250 ribu ton di tahun 2026, dan 500 ribu ton di tahun 2027.

“Sehingga di akhir tahun 2027 diharapkan, target produksi 1 juta ton alumunium ingot bisa tercapai. Dengan target pemasaran selain untuk dalam negeri, juga di Asia Tenggara, Asia Timur, Afrika dan Eropa,” tuturnya.

Purba menyebut, sejak Juli 2021 – Januari 2022, PT BAI telah berhasil memproduksi dan mengekspor sebanyak 550 ribu ton alumina ke Malaysia. Jumlah itu kata, dia setara dengan 212 juta USD.

“Ini telah menambah dan memberikan kontribusi terhadap surplus neraca perdagangan di Indonesia di semester terakhir,” katanya.

Purba menuturkan, bauksit yang menjadi bahan baku utama untuk memproduksi alumina di KEK Galang Batang berasal dari Kalimantan.

Sedangkan, batu bara yang menjadi sumber utama bagi penggerak PLTU di kawasan itu berasal dari Bukit Asam, Sumatera Selatan.

Ia menyampaikan, di KEK Galang Batang saat ini, telah memiliki PLTU berkapasitas 6×25 megawatt. PLTU inilah yang selama ini menjadi penopang energi di kawasan tersebut.

“Untuk PLTU kita sedang mengembangkan PLTU berkapasitas 6×150 megawatt, sekarang lagi diproses perizinan di Kementerian ESDM, akhir tahun ini sudah dimulai,” paparnya

Kemudian selanjutnya, ada lagi pembangunan PLTU berkapasitas 4×150 megawatt dan 8×150 megawatt yang digunakan untuk menyuplai listrik alumunium ingot.

Selain PLTU, di KEK itu juga telah dibangun sejumlah infrastruktur penunjang. Seperti pelabuhan modern yang telah dilengkapi oleh conveyor.

“Pelabuhan di KEK itu menjadi pelabuhan yang paling modern di Kepri saat ini,” ujarnya.

Sedangkan, untuk tenaga kerja, mantan Deputi BP Batam ini, mengatakan, total proyeksi tenaga kerja yang bisa ditampung di kawasan itu, sebanyak 21 ribu orang. Sedangkan, jumlah tenaga kerja yang telah diserap saat ini sebanyak 3.500 orang.

“Dari jumlah itu sebanyak 900 orang merupakan tenaga kerja asing, dan sisanya tenaga kerja lokal. Jadi memang untuk tenaga kerja sekarang lebih dominan dari tenaga lokal,” jelasnya.

Dikatakannya selama ini, untuk pengembangan KEK tersebut, PT BAI selaku pengelola kawasan itu, juga lebih dominan menggunakan kontraktor lokal.

“Ada 27 kontraktor lokal yang dilibatkan untuk pembangunan infrastruktur di sana,” tuturnya.

Ke depan lanjutnya, selain akan fokus pada pengembangan industri pengolahan alumina dan alumunium ingot. KEK Galang Batang, juga akan menjadi sentra kawasan industri seperti di Batam.

Untuk mewujudkan hal itu, telah disusun perencanaan untuk perluasan lahan KEK Galang Batang seluas 2000 hektar.

“Saat ini total lahan yang telah ditetapkan di KEK ini sekitar 2.333 hektar. Sekitar 60 persennya sudah digunakan,” tuturnya.

Menurutnya, jika nantinya hilirisasi atau pengembangan KEK itu berjalan mulus. Maka, bukan hal yang mustahil ke depan Pulau Bintan akan menyaingi Kota Batam sebagai penggerak ekonomi di Kepri.

“Kalau ini konsisten dilakukan bukan hal yang mustahil, Bintan yang menjadi bagian dari Provinsi Kepri ini akan menyaingi Kota Batam. Saya yakin itu pasti bisa terwujud,” sebutnya.

Geliat perekonomian di KEK Galang Batang, saat ini, tentunya, selaras dengan harapan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto ketika, melepas ekspor perdana alumina di KEK itu pada Jumat (2/7/2021) lalu.

Ketika itu Airlangga, mengatakan, KEK Galang Batang memang sangat, diharapkan mampu memberikan dampak bagi perekonomian nasional.

“Saya harapkan langkah ekspor KEK Galang Batang ini dapat dijadikan contoh bagi KEK lain di tanah air,” katanya waktu itu.

Hal itu juga selaras dengan keinginan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad yang berharap, KEK Galang Batang menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri.(kar)

The post KEK Galang Batang Penopang Ekonomi Indonesia, Investasi Rp 18 Triliun Sudah Masuk ke BAI first appeared on Harian Kepri.


BERITA TERKAIT