Warga Resah Kesehatan Terganggu, Pabrik Briket Cemari Lingkungan di Blora
SUARABANYUURIP.COM | 30/07/2020 14:01
Warga Resah Kesehatan Terganggu, Pabrik Briket Cemari Lingkungan di Blora

Blora - Pabrik briket di Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, memicu keresahan warga sekitar. Debu dari sisa pengolahan briket beterbangan mencemari udara, hingga mengganggu pernafasan warga.

Debu briket juga mempel di rumah dan pekarangan.  Salah satu warga yang merasakan dampaknya adalah adalah Zumrotun (35), warga Desa Tempellemahbang RT 03 RW 01, Kecamatan Jepon. Anaknya yang berusia 2,5 tahun, setiap hari menghirup debu briket. "Saya menyadarinya baru dua mingguan ini," ujarnya.

Baca Lainnya :

"Sangat terganggu. Ambekan (pernafasan) ya sesak terutama anakku yang kecil ini. Upilnya sampai ada flek hitam dan jadi sesak nafas," kata Zumrotun, Selasa (28/7/2020) kemarin.

Dia sempat menduga debu yang bermunculan tersebut disebabkan saat ini musim kemarau. Namun baru sadar ternyata debu berasal dari sebuah cerobong arang pembuatan briket. 

Baca Lainnya :

 

Zumrotun khawatir terhadap anak-anaknya apabila terus menghirup udara kotor. Paru-paru anaknya tidak kuat lantaran usianya masih sangat dini.

Senada disampaikan Hery Firmansyah (39), warga lainnya. Dia juga merasa tergangu dengan keberadaan pabrik briket yang terletak di dekat pemukiman penduduk. "Terus terang saya keberatan dan terdampak adanya pabrik briket di desa kami," katanya.

Menurut Hery, pihak karyawan pabrik sudah diberitahu beberapa waktu lalu agar cerobong asap pabrik briket ditinggikan. Namun, tidak ada tindak lanjut hingga saat ini.

"Sudah saya kasih tahu karyawannya agar di sampaikan ke pemilik pabrik briket, tapi belum ada respon penanganan," katanya.

Hery berharap adanya peristiwa ini pihak perusahaan harus meminta izin menyeluruh kepada warga. "Semacam persetujuan warga kanan kiri atau mungkin dekat dengan pabrik tersebut," kata dia.

Kepala Desa (Kades) Tempellemahbang, Kasbi saat di konfirmasi mengaku, belum mengetahui peristiwa tersebut. Dia mengaku, akan segera mengecek kondisi lokasi pabrik.

Kasbi menyatakan selama ini aktivitas pabrik briket belum laporan ke pemerintah desa dan melakukan sosialisasi ke warga sekitar lokasi.

"Kalau di zaman saya belum pernah. Tapi kalau ke kepala desa yang dulu saya belum tahu," ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sumber Daya Manusia (SDM) CV Krambil Jawadwipa Nusantara, pengelola Pabrik Briket, Teguh menjelaskan telah diberitahu tentang keluh kesah warga yang terganggu dengan aktivitas yang dilakukan. 

Laporan tersebut, lanjut dia, telah ditindaklanjuti dengan menyiapkan solusi penanganan lebih lanjut. Pihak pabrik akan bertindak cepat sosialisasi ke warga. Khususnya di sekitar lokasi pabrik yang terdampak polusi. "Solusinya kita sudah berupaya beli blower penyedot, sama terpal untuk tutup," katanya. 

Debu briket berasal dari arang batok kelapa beterbangan di sekitar pabrik lantaran di lokasi setempat digunakan sebagai tempat proses mengayak dan menggiling. Sedangkan yang proses menyetak briket bukan di lokasi setempat. Melainkan di Kalitengah, Kecamatan Jiken.

Teguh menyampaikan, pemilik usaha Pabrik Briket tersebut bernama Arif Budiono asal Cepu, Blora. Saat ini yang bersangkutan berdomisili di Jakarta.  Atas keluhan warga, pemilik pabrik akan diberitahu lebih lanjut informasinya. Pihak pabrik akan melakukan upaya agar tidak merugikan orang lain disekitar lokasi keberadaan.

"Secara hukum atau secara apapun kita nggak boleh merugikan orang lain. Pabrik ya mendayagunakan masyarakat sekitar," ujarnya.

Teguh mengakui jika belum ada sosialisasi dengan warga sekitar lokasi. Namun, ada warga Desa Tempellemahbang yang sudah dipekerjaan di Pabrik Briket tersebut. 

Informasi yang diperoleh, aktivitas CV Krambil Jawadwipa Nusantara di Desa Tempellemahbang ini sebatas mengontrak di sebagaian tanah aset desa.(ams)

SUARABANYUURIP.COM


BERITA TERKAIT