Sewakan Kombi, Hasilkan Omzet Rp 4,5 juta per Hari
SUARABANYUURIP.COM | 02/03/2021 14:55
Sewakan Kombi, Hasilkan Omzet Rp 4,5 juta per Hari
Ilustrasi sawah kekeringan

SuaraBanyuurip.com - Masa depan di bidang pertanian yang beralih dari cara manual ke teknologi mekanis disadari oleh Muhammad Bahrudin, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Brawijaya (Unibraw) asal Desa Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Bermodalkan mesin pemanen (Harvester Combine) yang biasa disebut kombi, pemuda lajang 23 tahun ini mampu menghasilkan omzet sekira Rp 4,5 juta per hari dari menyewakan mesin kombi miliknya.

"Saya memulai usaha persewaan kombi ini sejak awal 2020 lalu. Dari uang tabungan saya beli mesin pertama seharga Rp 285 juta untuk type Harvester Kubote Dc-35," ungkap Ustadz pengajar Ilmu Fiqih di Pondok Pesantren Al-Ridwan ini mengawali kisah.

Bahrudin, demikian ia karib disapa, mengaku sejak 2018 sebetulnya sudah berpikir menyewakan mesin pemanen. Tapi kala itu tabungan yang dipunya belum cukup untuk membeli mesin kombi.

"Setelah berhasil mengoperasikan satu mesin pemanen, keuntungan yang saya dapat kemudian saya investasikan lagi untuk membeli mesin kombi yang lebih besar type Harvester Kubota Dc-70 seharga Rp 530 juta," ujar Sarjana Hukum lulusan Universitas Nahdatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro tahun 2020 ini, Minggu (28/02/2021).

Pemuda lajang kelahiran 18 Juni 1997 ini menuturkan, dibutuhkan 5 awak ketika menyewakan satu mesin kombi. Rinciannya 1 Sopir, 1 tukang jahit sak, dan 3 kuli angkut.

Biaya sewa yang dikenakan kepada pemilik lahan berupa sistem borong Rp 450 ribu per ton. Dalam pengupahannya dirumuskan masing-masing awak kombi mendapat upah Rp 30 ribu per ton, ditambah biaya beli solar Rp 200 ribu, sisanya untuk pemilik kombi Rp 100 ribu.

"Sehari rata-rata bisa panen 10 ton, jadi omzetnya bisa sampai Rp 4,5 juta, karena mesin ini lebih cepat dan efisien, dibandingkan dos pancal," katanya.

Dijelaskan, penggunaan Mesin Pemanen Gabungan (MPG) atau mesin kombi ini lebih ekonomis dan minim penyusutan. Berbeda dengan menyewa dos pancal, yang menurutnya lebih lambat dan tidak ekonomis untuk pemilik lahan.

"Katakanlah sewa dos pancal, sistem upahnya harian butuh 20 orang buruh dengan upah Rp 100 ribu per orang, sudah pengeluaran Rp 2 juta, belum lagi harus pengeluaran lagi untuk makan dan rokok. Waktu pengerjaannya juga bisa sampai lebih dari 3 hari, habisnya bisa sampai Rp 6 juta lebih," terangnya.

Dalam satu masa panen raya, kata Bahrudin, mesin kombinya bisa setiap hari beroperasi hingga 3 sampai 4 bulan berpindah-pindah lokasi. Mulai dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan yang di Jawa Timur, sampai ke Pati, Blora, dan Kudus di Jawa Tengah.

Panen raya saat masih musim penghujan, dimana harga gabah cenderung anjlok, justru memberi keuntungan ganda untuknya. Karena petani biasanya tidak membawa pulang gabah hasil panen untuk dikeringkan, melainkan ditawarkan sekaligus kepada pemanen. Kurangnya sinar matahari untuk pengeringan menjadi salah satu alasan para petani.

"Harga gabah anjlok tidak masalah, asalkan saya masih mendapat spen (selisih harga) setidaknya Rp 600 per kilogramnya, yang Rp 450 untuk ongkos kombi, sisanya laba bersih penjualan. Taruhlah sekira Rp 1,5 juta per hari kalau dapat 10 ton," pungkasnya.

suarabanyuurip.com