Ganggu Tanaman Pertanian, Komisi B DPRD Bojonegoro Soroti Jalan Proyek Gas JTB Berdebu
SUARABANYUURIP.COM | 06/07/2021 06:42
Ganggu Tanaman Pertanian, Komisi B DPRD Bojonegoro Soroti Jalan Proyek Gas JTB Berdebu
Ganggu Tanaman Pertanian, Komisi B Soroti Jalan Proyek Gas JTB Berdebu

SuaraBanyuurip.com - Bojonegoro - Produktivitas pertanian jenis tanaman tembakau sekitar proyek lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang kurang bagus diduga terganggu akibat debu jalan yang terhempas dari lalu lalang kendaran proyek hingga membuat sebagian petani tembakau desa ring satu JTB kini memilih beralih tanam jagung maupun tanaman palawija lainnya mendapat sorotan tajam dari Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro.

Sebagian petani tembakau yang kini beralih menanam palawija tersebut salah satunya adalah petani tembakau Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengatakan, bahwa seharusnya kontraktor melakukan upaya mitigasi terhadap dampak lingkungan.

"Bahkan sebelum proyek dimulai analisa lingkungan ini (seharusnya) sudah dilakukan pada saat proses AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)," katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (05/07/2021).

Ditambahkan, seharusnya pembangunan yang dilakukan harus sesuai dengan ketentuan dan juga prinsip pembangunan yang berkelanjutan serta mencegah terjadinya pencemaran dan juga kerusakan lingkungan.

"Jadi setelah dikeluarkannya ijin AMDAL tidak selesai begitu saja, masih ada tanggung jawab OPD (Organisasi Perangkat Daerah) untuk pemantauan/ monitoring pelaksanaan," tegas Sally Atyasasmi.

Dikonfirmasi terpisah melalui pesan WhatsApp Senin (05/07/2021) terkirim pukul 13.35 Wib berkenaan perihal tersebut, Kepala DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Bojonegoro, Hanafi, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan jawaban.

Diberitakan sebelumnya, sebagian petani tembakau desa sekitar proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) tahun ini tak semua menanam tembakau dibandingkan beberapa tahun silam. Kini mereka pada beralih menanam jagung, lombok, dan tanaman palawija lainnya.

Petani tembakau Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya. Khususnya petani dekat jalan proyek pemasangan pipa Gas JTB dari Jambaran East (JE) ke Jambaran Central (JC). Dimana proyek pemasangan pipa gas JTB tersebut dikerjakan oleh PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS).

Beralihnya mereka menanam palawija, selain faktor alam kurang bersahabat karena masih sering turun hujan, juga ditengarai karena faktor debu yang acap kali bertebaran terhempas ban kendaraan proyek saat melintas dan menempel di daun tembakau. Sehingga membuat pertumbuhan tidak maksimal, dan saat musim panen tidak laku dijual. Karena daun tembakau menjadi jelek.

"Jangankan mau beli, andaikan daun tembakau itu dikasikan saja tidak bakalan mau, karena kondisinya jelek banyak debunya. Jadi tahun ini saya milih tanam jagung saja. Tanam tembakau cuman sedikit buat tombo pingin," ujar Tarmuji, petani Desa Pelem, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (02/07/2021).

Tarmuji mengaku, penyiraman sudah dilakukan, tapi kurang maksimal, dan tidak secara total sepanjang jalan hanya pada titik-titik tertentu saja. Padahal di kanan kiri jalan proyek tersebut lahan pertanian warga.

"Penyiraman sudah. Hanya saja kurang maksimal, Pak. Jadi kalau tidak hujan, dan kondisi cuaca panas debunya luar biasa saat kendaraan proyek lewat. Tapi kami sebagai rakyat kecil tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah adanya kondisi ini," imbuhnya.(fin)

 


BERITA TERKAIT