Karang Taruna Bandungrejo Bidik Dua Usaha di Proyek Gas JTB
SUARABANYUURIP.COM | 08/08/2021 08:49
Karang Taruna Bandungrejo Bidik Dua Usaha di Proyek Gas JTB
Karang Taruna Bandungrejo Bidik Dua Usaha di Proyek Gas JTB

SuaraBanyuurip.com - Bojonegoro - Karang Taruna (Kartar) Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ingin terlibat langsung dalam proyek gas Jambaran - Tiung Biru (J-TB). Ada dua usaha yang dibidik yakni, pengelolaan jasa parkir sepeda motor tenaga kerja proyek dan supplier kebutuhan perkantoran seperti alat tulis kantor (ATK), dan minuman.

Anggota Karang Taruna Desa Bandungrejo, Alufananda menjelaskan dua unit usaha yang dibidik tersebut untuk memberikan kegiatan kepada pemuda agar memperoleh penghasilan dan sekaligus pendapatan bagi karang taruna. 

"Sehingga ketika pemuda atau desa ada kegiatan seperti Agustusan, bersih desa, kita tidak perlu mengajukan proposal bantuan ke perusahaan-perusahaan. Karena kita sudah mandiri karena memiliki kas sendiri," ujarnya saat dialog dengan perwakilan PT Rekaya Industri (Rekind) dan subkontraktor di Balai Desa Bandungrejo, Sabtu (7/8/2021).

Sebelum mengelola jasa parkir kendaraan pekerja proyek gas JTB, lanjut Ifan, panggilan akrabnya, karang taruna akan menyiapkan konsep terlebih dulu untuk diajukan kepada PT Rekind. Mulai lokasi parkir, lahan yang akan digunakan hingga sistim pembayarannya.

"Lahannya nanti apakah menggunakan lahan Perhutani, lahan desa atau lahan siapa, masih akan kita bahas. Begitu juga pembayaran jasa parkirnya apakah nanti akan dibebankan kepada pekerja atau ditanggung Rekind," jelasnya. 

Senada disampaikan Andri, pemuda lainnya. Menurut dia, dengan dikelolalanya jasa parkir oleh karang taruna ini sepeda motor para pekerja proyek Gas JTB akan menjadi lebih tertib dan aman. 

"Karena selama ini parkirnya ada yang di pinggir jalan, dan di lahan Perhutani," ungkapnya. 

Menanggapi permintaan itu, Site Manager PT Rekind Zainal Arifin melalui Koordinator Community Development, Yanwar Aditiya belum bisa memutuskan karena dibutuhkan pembahasan lebih lanjut dengan sejumlah pihak seperti Perhutani. 

"Karena lahan yang dekat lokasi proyek milik Perhutani, jadi kami perlu membahasnya di internal lebih dulu," pungkasnya.(suko) 










BERITA TERKAIT