ODGJ Dipasung di Bojonegoro Tinggal 20 Orang
SUARABANYUURIP.COM | 29/08/2021 20:26
ODGJ Dipasung di Bojonegoro Tinggal 20 Orang
ODGJ Dipasung di Bojonegoro Tinggal 20 Orang

SuaraBanyuurip.com - Bojonegoro - Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang dipasung di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami penurunan dari sebelumnya 37 orang, sekarang ini menjadi 20 orang. Turunnya jumlah ODGJ pasung ini tidak lepas dari pendampingan dan pemantauan oleh pemerintah dan pendamping lapangan.

Pemerintah sendiri sampai saat ini terus mengkampanyekan program gerakan Indonesia bebas pasung, sejak diterbitkannya UU Nomor 18 tahun 2014, tentang Kesehatan Jiwa.

Pemerintah Provinsi Jatim melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, terus aktif melaksanakan program penanganan bebas pasung secara berkesinambungan. Salah satunya dengan memberikan paket souvenir sembako kepada korban pasung maupun eks pasung.

Adi Santoso, Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, menyambut baik adanya program ini. Menurutnya, program souvenir sembako ini sangat bermanfaat sekali bagi penderita pasung.

"Apalagi ada peran pendamping pasung dari Provinsi Jawa Timur, sangatlah penting untuk memantau perkembangan dan melaporkan kondisi klien setiap bulan," jelasnya.

Pendamping Pasung Provinsi Jawa Timur (Jatim), Pipit Anggraini menambahkan total souvenir sembako dari Dinas Sosial Provinsi Jatim sebanyak 20 paket. Pendistribusian dilakukan secara langsung ke rumah masing-masing korban pasung dan eks pasung di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

"Korban pasung maupun eks pasung kesemuanya dipantau serta tetap dalam pengawasan dan selalu diverifikasi perkembangannya setiap bulan," tuturnya pendamping pasung yang juga TKSK Bojonegoro ini, Minggu (29/8/2021).

Selama ini mereka mendapat pendampingan rutin berupa verifikasi setiap bulan untuk mengetahui perkembangan psikologis penderita, memastikan penderita masih ada atau tidak, mengetahui obat-obatan yang dikonsumsi, serta memastikan apakah mereka mau dirujuk ke rumah sakit atau tidak.

Penanganan ODGJ pasung ini melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) Bojonegoro seperti Dinas Sosial (Dinsos), dan Dinas Kesehatan. Hasil verifikasi ini juga selalu dilaporkan kepada Dinsos setempat.

"Jika mereka sudah bisa diajak komunikasi dan tidak membahayakan baru tidak dipasung. Tapi harus tetap mengkonsumsi obat yang diberikan pihak puskesmas," jelasnya.

Pipit, panggilan akrabnya menambahkan,  banyak faktor yang menyebabkan ODGJ pasung. Diantaranya karena kecelakaan, dan beban ekonomi yang mengakibatkan jiwanya tergunjang, sehingga dapat berbuat yang membahayakan keselamatan orang lain.

"Ada juga yang habis mondok, pulang-pulang jadi seperti itu," pungkasnya.(jk)


BERITA TERKAIT