800 Rumah di Tuban Terendam Banjir Rob
SUARABANYUURIP.COM | 24/05/2022 08:01
800 Rumah di Tuban Terendam Banjir Rob
800 Rumah di Tuban Terendam Banjir Rob

SuaraBanyuurip.com, Tuban - Ratusan unit rumah di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban (Kota), Kabupaten Tuban, Jatim terendam air laut akibat banjir rob dari laut utara Jawa, Senin (23/05/2022). 

Banjir rob akibat fenomena full flower blood moon, ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis sejajar dengan jarak terdekat dengan bumi tersebut, juga menyebabkan permukiman warga di Kelurahan Kingking, Kecanatan Tuban (Kota), Desa Gadon, Kecamatan Tambakboyo, dan Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu bernasib serupa. 

Air laut yang digendong ombak laut Utara Jawa setinggi 1,25 hingga 2,5 meter, memasuki permukiman warga. Walau air di permukiman tak tinggi namun mengganggu aktivitas penghuninya. 

"Ini ombak di laut tinggi sejak tadi pagi," kata Agus, di samping sejumlah warga saat ditemui di kawasan Kelurahan Karangsari, Senin (23/05/2022) sore. 

Saat ini warga kampung nelayan mulai dari wilayah Kecamatan Palang, Tuban, Jenu, Tambakboyo, dan Kecamatan Bancar di sepanjang 60 KM garis pantai utara Tuban terus berjaga. Mereka khawatir ombak semakin besar menyertai angin kencang hingga menimbulkan rob yang akan memporak-porandakan kampung mereka.

Warga terus berjaga sambil memantau perkembangan teknis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tuban. 

Sejumlah titik tempat sandar perahu dan kapal dijaga oleh para nelayan. Mereka tak mau kejadian rusaknya kapal milik nelayan dari Karangsari hari Jumat lalu, terulang di tempatnya. 

"Semoga ombak besar disertai angin kencang seperti ini segera surut," kata para nelayan saat ditemui tak jauh dari tempat sandar perahu di pantai setempat. 

Sedangkan Lurah Karangsari, Regu Wibowo, menyatakan, akibat banjir rob belasan rumah di pesisir pantai Karangsari mengalami kerusakan bagian atap akibat terhantam ombak. Dilaporkan permukiman di sembilan Rukun Tetangga (RT) tergenang banjir.

Kondisi banjir rob yang terjadi Senin pagi hingga petang ini adalah yang terparah. Wilayah jni pada Jumat (20/05/2022) juga terjadi, hingga menghancurkan satu kapal nelayan setempat tapi tak lama air surut. Hari Senin ini banjir hingga menjelang petang masih berlangsung. 

Regu Wibowo mengungkapkan, hingga Senin sore terdata ada 800 KK yang tersebar di sembilan RT terendam air rob. Termasuk pula sejumlah rumah di pinggir pantai rusak bagian atapnya akibat dihantam ombak. 

“Warga kami masih berjaga- jaga, mudah-mudahan banjir cepat surut,” ujar Regu Wibowo. 

Fenomena alam ini, menurut Kepala BMKG Kelas 3 Tuban Zem Irianto, terjadi hampir di seluruh wilayah pesisir Jawa Timur, akan berlangsung hingga tanggal 25 Mei mendatang. 

Dalam pers rilis dari Media Center Pemkab Tuban yang diterima SuaraBanyuurip.com Senin petang, Zem Irianto menambahkan, fenomena full flower blood moon dengan jarak bulan terdekat dengan bumi menyebabkan gravitasi bulan lebih kuat. Hal itu memicu tarikan air laut pasang lebih tinggi sehingga menyebabkan rob. 

Awalnya banjir rob diprediksi akan terjadi hingga 20 Mei, tetapi fenomenanya berlangsung hingga 25 Mei 2022. BMKG pada tanggal 14 hingga 20 Mei sudah mengeluarkan peringatan.

BMKG Tuban mencatat, saat ini tinggi ombak di pesisir pantai Jawa Timur  mencapai 1,25 hingga 2,5 meter. Sedangkan untuk wulayah perairan Kabupaten Tuban dan Lamongan ketinggian bisa mencapai 2,5 meter. 

"Kami meminta para nelayan agar berhati-hati saat melaut, tetap waspada dan terus memperhatikan informasi dari BMKG,” kata Zem Irianto. 

Secara terpisah, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Sudarmaji, mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan terkait jumlah rumah warga yang terdampak. Untuk penanganan sementara,  pihaknya dibantu oleh warga membuat penahan pasir untuk memecah ombak. 

Untuk penanganan jangka panjang, BPBD akan bekerjasama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk pengusulan pembuatan tanggul penahan ombak sepanjang 48 Km. Meskipun usulan tersebut telah dilayangkan beberapa tahun lalu, namun perlu untuk mengingatkan agar segera terealisasi. 

“Melihat urgensinya di lapangan, penahan ombak sudah sangat dibutuhkan,” pungkas Darmaji. 

 

suarabanyuurip.com


BERITA TERKAIT