Bank Pendana Industri Semen di Pegunungan Kendeng Harusnya Bertanggung Jawab
SUARABANYUURIP.COM | 26/05/2022 09:30
Bank Pendana Industri Semen di Pegunungan Kendeng Harusnya  Bertanggung Jawab
Bank Pendana Industri Semen di Pegunungan Kendeng Harusnya Bertanggung Jawab

SuaraBanyuurip.com, Jakarta - Bank yang membiayai industri semen di kawasan pegunungan Kendeng Utara,  perlu bertanggung jawab terhadap problem yang timbul dari pabrikan tersebut.

Terlebih industri berbahan baku, batu kapur itu banyak menimbulkan masalah lingkungan dan sosial. Termasuk pula konflik berkepanjangan antara warga, pemerintah, dan perusahaan.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari webinar dan launching riset yang digelar koalisi ResponsiBank bersama LBH Semarang, Selasa (24/05/2022). Riset ini memotret kasus pelanggaran hak warga, dan tanggung jawab bank dalam pembiayaan industri semen di Pegunungan Kendeng Utara.

Penelitian menyoroti kasus dampak pabrik semen PT Semen Indonesia yang berdiri di Kabupaten Rembang, Jateng, dan rencana pendirian pabrik semen oleh PT Sahabat Muliasakti di Kabupaten Pati, Jateng.

Mewakili kordinator ResponsiBank, Victoria Fanggidae, menyampaikan, penelitian secara khusus menelusuri keterlibatan bank dalam membiayai industri semen di Pegunungan Kendeng Utara. Sebenarnya bukan hanya pabrik atau industrinya saja yang bertanggung jawab, tetapi siapa yang memberi uang kepada pabrik itu juga harus bertanggung jawab.

Saat memaparkan hasil risetnya, peneliti dari ResponsiBank Dwi Rahayu Ningrum menyatakan, dari tahun 2018 hingga Januari 2022, total aliran pembiayaan dan investasi yang diberikan kepada HeidelbergCement dan PT Indocement Tunggal Perkasa  induk dari PT Sahabat Muliasakti mencapai 2,9 miliar Euro, dengan persentase terbanyak bersumber dari pinjaman dan obligasi.

"Dari pinjaman sebesar 1,2 miliar Euro, kemudian diikuti obligasi 974 juta Euro, kepemilikan saham sebesar 588 juta Euro dan kepemilikan obligasi 121 juta Euro," kata Dwi Rahayu Ningrum dalam rilis dari ResponsiBank yang diterima SuaraBanyuurip.com, Rabu (25/05/2022).

Bank yang paling banyak menyalurkan pembiayaan ke industri semen di Pegunungan Kendeng Utara adalah Deutsche Bank. Total pembiayaan yang diberikan mencapai lebih dari 800 juta Euro.

"Kemudian Bank lainnya adalah ING, LBBW, BayernLB, Commerzbank, Deka, Allianz, Union Investment, Axa, Stadtsparkasse Dusseldorf, Alte Leipziger, dan apoBank. Untuk aliran pembiayaan dari HeidelbergCement ini tidak ditemukan adanya keterlibatan dari bank-bank nasional," jelas Dwi.

Sedangkan total pembiayaan untuk PT Semen Indonesia yang beroperasi di Rembang, selama periode 2018 hingga 2022 mencapai 228,1 juta Euro. Sumber terbanyak berasal dari pinjaman sebesar 172,9 juta Euro kemudian diikuti obligasi 50,8 Euro dan kepemilikan saham 4,4 juta Euro.

Berbeda dengan HeidelbergCement, bank yang terlibat membiayai PT Semen Indonesia paling banyak berasal dari bank nasional yaitu Bank Mandiri sebanyak 137,2 juta Euro, BNI 86 juta Euro, diikuti oleh Deutsche Bank, Union Investment dan Allianz.

Ia katakan, salah satu faktor penyebab terjadinya praktik  pembiayaan bank yang tidak bertanggung jawab adalah absennya kebijakan, untuk mengatur pengelolaan risiko lingkungan dan sosial pada Bank Mandiri dan Bank BNI.

"Di sisi lain meskipun Deutsche Bank memiliki kebijakan yang lebih progresif, namun terjadi inkonsistensi pada praktik di lapangan," ungkap Dwi membedah temuannya.

Sementara itu, Ahmad Syamsuddin Arif dari LBH Semarang menyatakan, izin lingkungan merupakan persyaratan utama bagi perusahaan untuk dapat mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Bank-bank yang terlibat secara tidak langsung turut melanggengkan kerusakan lingkungan, dan permasalahan sosial yang terus terjadi di Pegunungan Kendeng Utara hingga saat ini.

Selain itu, menurut Ahmad Syamsuddin Arif, ada dampak kerusakan lingkungan, akibat beroperasinya pabrik semen menimbulkan berkurangnya resapan air sehingga timbul kekeringan saat kemarau dan banjir saat musim penghujan. 

Debu yang berdampak pada kesehatan warga, kesuburan tanaman pertanian, dan keamanan warga, serta menghancurkan Gunung Kendeng sebagai entitas budaya.

Dampak lain yang juga timbul adalah terjadinya kekerasan dari oknum penegak hukum, dan keretakan sosial akibat konflik antara warga yang pro dan kontra. Selain itu beroperasinya pabrik semen juga berdampak pada memudarnya budaya, dan gaya hidup pertanian sebagai pondasi kehidupan masyarakat adat Sedulur Sikep.

Di akhir webinar salah satu perwakilan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng berharap, agar proses advokasi tidak berhenti sampai kegiatan riset saja. Lebih dari itu diperlukan dukungan berkelanjutan dari seluruh pihak, hingga harapan warga untuk hidup sejahtera bisa terwujud. 

 

suarabanyuurip.com

 

 


BERITA TERKAIT