Satu Keluarga Positif Covid-19 Tolak Dikarantina, Marah Tak dapat Bantuan Pemerintah Selama Isolasi Mandiri
BORNEONEWS.CO.ID | 04/06/2020 16:44
Satu Keluarga Positif Covid-19 Tolak Dikarantina, Marah Tak dapat Bantuan Pemerintah Selama Isolasi Mandiri

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Postingan relawan Pemuda Kapitan Peduli di media sosial Facebook yaitu Muhammad Asary viral di media sosial, Rabu, 3 Juni 2020.

Pasalnya, dalam postingan video tersebut terlihat seorang ibu yang dinyatakan positif covid-19 marah lantaran tidak ada satupun pihak pemerintah yang membantu mereka. 

Saat dikonfirmasi kepada pemilik akun Facebook tersebut yaitu Muhammad Asary, yang bersangkutan mengatakan bahwa video tersebut diambilnya saat Relawan Pemuda Kapitan Peduli mengantarkan bantuan pada warga tersebut.

"Seperti yang disampaikan warga tersebut di video, bahwa katanya ia satu keluarga dinyatakan positif covid-19. Namun mereka tidak dapat penjelasan rinci dan surat keterangan jika sudah terpapar Covid-19," jelas Asary melalui sambungan telepon. 

Sedangkan, lanjut Asary, informasi yang beredar luas di masyarakat mereka sudah dicap sebagai pasien Covid-19.  "Mereka kebingungan, belum lagi jika bener mereka positif kenapa mereka tidak diberikan bantuan sama sekali seperti vitamin atau obat-obatan apapun. Mereka juga bilang sampai saat ini harus beli vitamin dengan uang mereka sendiri," kata Asary.

Menurut Asary, dalam video tersebut juga disampaikan bahwa mereka sudah dicap sebagai pasien positif Covid-19 dan sudah 3 hari ini mereka melakukan isolasi mandiri. Tapi tidak ada satupun dari pihak pemerintah khususnya yang menanggulangi Covid-19 di Kobar dan Desa Sungai Kapitan untuk membantu mereka.  

"Sampai hari ini pun mereka tidak mendapatkan perhatian sekalipun. Jika mereka marah begini lantas siapa yang mau disalahkan Apakah mereka ini. Kami jujur merasa miris dengan kondisi mereka, sedangkan keterbatasan kami para relawan hanya sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi secara psikologis mereka sudah tertekan. Karena tekanan dari sana sini jika mereka pasien positif," jelas Asary.

Saat hal ini dikonfirmasi pada Kepala Puskesmas Kumai dr. Abimanyu, yang bersangkutan menolak bila dianggap menelantarkan pasien. "Saat pertama mereka dinyatakan positif dan ibunya meninggal akibat covid-19, kami juga sudah mengunjungi rumah mereka," kata Abimanyu. 

Bahkan, menurut Abimanyu, malam harinya ia juga bermaksud membawa keluarga tersebut untuk di karantina, namun mereka berkeras untuk melakukan karantina mandiri di rumah.

"Tadi saat kami mendatangi ke rumahnya, keluarga tersebut menyatakan menolak kami bawa untuk di karantina di RSUD. Kami juga sudah menjelaskan bahwa lantaran mereka positif maka harus menjalani karantina di tempat yang disediakan pemerintah, namun mereka tetap menolak," kata Abimanyu. 

Walau demikian, lanjut Abimamyu, hari ini pihaknya akan kembali mencoba melakukan pendekatan agar keluarga tersebut bersedia dikarantina sitenlat yang sudah disediakan pemerintah.

"Bila mereka nantinya berkeras tidak bersedia, tentunya kami akan berkoordinasi dengan Tim Gugus Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Kobar untuk mengambil langkah penanganan," ujar  Abimanyu. (WAHYU KRIDA/B-5)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT