Kisah Lulusan Akmil Pilih Keluar dari TNI Jadi Petani Jeruk Chokun, Sekali Panen Bisa Raup Rp 1,3 Miliar
BORNEONEWS.CO.ID | 01/02/2021 17:00
Kisah Lulusan Akmil Pilih Keluar dari TNI Jadi Petani Jeruk Chokun, Sekali Panen Bisa Raup Rp 1,3 Miliar
Wayan Supadno tunjukkan jeruk madu Chokun Thailand hasil panen dari kebun miliknya.

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Wayan Supadno menyampaikan pada tahun 1993, dirinya dilantik dengan pangkat Letda di Magelang. Di lingkungan TNI jika sudah jadi perwira merupakan posisi paling enak, dibanding bintara, dan tamtama.

Karena ditugaskan di mana saja jadi unsur pimpinan. Tapi kalau tanpa upaya beda, pasti tanpa hasil beda pula. Semua dijalani dengan senang hati, niscaya hasilnya menyenangkan dan bermanfaat nyata.

"Kalaupun saat itu saya normatif saja maka sekali lagi sudah enak. Tapi saya tahun 1995 tidak mau normatif saja. Selain tugas sebagai guru dan pelatih militer, di Rindam l/BB Pematang Siantar Sumut. Saya bertekad mengawali usaha. Tanpa mendua profesi mustahil punya ganda pendapatan," kata Wayan Supadno, kepada Borneonews, Minggu, 31 Januari 2021.

Hal tersebut merupakan kunci agar punya ganda pendapatan, asal halal dan bermanfaat. Konsekuensinya berpikir, berkata dan bertindak beda dari umumnya. Tenaga, waktu, pikiran dan lainnya juga beda.

"Saya sadar tidak punya uang (modal) karena memang dari keluarga pas - pasan begitu juga mertua. Apalagi orang tua saat itu baru saja transmigrasi ke Sulawesi," ungkapnya.

Artinya, kata Wayan, harus ada cara beda agar terwujud cita - cita punya _side passive income_ untuk jangka panjang. Agar uang bukan lagi jadi masalah hidup ini.

"Saya utang Primkopad Rp 700.000 dan Rp 100.000 di antaranya buat modal usaha. Keyakinan saya sangat kuat dengan prinsip filosofi orang Jawa bahwa 'Pohon Beringin Besar Sekalipun, Berawal Dari Benih Sangat Kecil'," kata Wayan.

Lanjutnya, uang Rp 400.000 untuk beli vespa Kongo tahun 1964, lalu predikat "Perwira Kongo" melekat pada dirinya. Lantas hal tersebut tidak membuat dirinnya malu. Karena vespa itu lucu, butut, tua dan tidak mampu jalan cepat. Sisanya Rp 200.000 buat kenangan sahabat dokter obgyn, karena anak pertamanya lahir.

Sadar bahwa tidak punya waktu karena profesi guru dan pelatih militer di Dodiklatpur Rindam l/BB selama 6 tahun, hal tidak mudah untuk membagi waktu. Artinya harus punya orang yang waktunya bisa total untuk dikendalikan dan digaji. Akhirnya merekrut orang jadi pengganti dirinya kemana saja sesuai kebutuhannya.

Dua hal di atas jadi sumbu ledak agar berani membangun nyali mengawali dan tetap melangkah, agar jumpa ilmunya. Jika sudah dilangkahi atau dijalani, lalu ilmu itu dijadikan bekal buat menyempurnakan langkah berikutnya. Orang Jawa bilang 'Tinemune ilmu kanti laku/dapatnya ilmu jika sudah dijalani'.

Akhirnya usaha jalan hingga sekarang. Jatuh bangun utamanya di awal perjalanan usaha adalah proses pembekalan diri. Proses mendididik diri. Utamanya proses membangun mental dan intelektual diri sendiri.

"Misal tertipu, pertanda baru punya ilmu 'sembrono' belum punya ilmu hati - hati dan waspada. Patut mawas diri. Pasca tertipu barulah mulai sebagian lulus mata kuliah ilmu waspada dan antisipasi," tegasnya.

Begitu juga hal refleks kecerdasan lapangan memimpin tim pengelola usaha, intuisi, menangkap peluang usaha, penetrasi pasar, mengelola keseimbangan cashflow dan lain sebagainya. Semua membawa berkah ilmu hikmahnya.

Wayan Supadno pun kini jadi petani sukses dengan mengembangkan komoditas varian jeruk madu Chokun Thailand, yang rasanya manis dan ukurannya besar di kebunnya, di Desa di RT.12, Desa Kumpai Batu Atas, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).

Dalam 1 tahun ia bisa panen hingga 3 kali, di lahan seluas 12 hektare dalam kurun waktu 8 bulan bisa menghasilkan sebanyak 125 ton dengan penghasilan sekitar Rp 1,3 miliar. Saat ini kebun yang dibudidayakan di Kabupaten Kobar, merupakan jadi yang terbesar dari 5 petani jeruk chokun utama di Indonesia.

Tidak hanya jeruk chokun, hasil dari keuntungan penjualan jeruk tersebut ia kembangkan kembali untuk usaha peternakan sapi.

Sejumlah penghargaan pun telah ia sabet, yakni pada peringatan HUT ke 75 RI tahun 2020 Wayan juga menjadi salah seorang yang dianugerahi gelar Icon Prestasi Pancasila, serta sebelumnya tahun 2016 dirinya juga mendapat penghargaan, sebagai Petani Inovatif Nasional dari pemerintah RI. (DANANG/B-5)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT