Sampah Organik Dominasi Persampahan di Palangka Raya
BORNEONEWS.CO.ID | 12/10/2021 16:00
Sampah Organik Dominasi Persampahan di Palangka Raya
Alat berat saat mengeruk tumpukan sampah kayu dan bambu yang tersangkut di Pintu Air Manggarai, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019. Tumpukan sampah seberat 80 ton diangkut menggunakan alat berat dan dimasukkan ke dalam puluhan truk untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

BORNEONESW, Palangka Raya - Sampah organik atau sampah sisa makanan mendominasi persampahan di Palangka Raya. Jumlahnya mencapai 70 persen. Sedangkan sisanya sampah anorganik dan sampah rumah tangga.

"Sampah organik memang paling banyak dan totalnya 70 persen dari besarnya timbulan sampah yang saat ini sampai 140 ton sehari," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya Achmad Zaini, Selasa 12 Oktober 2021.

Sampah organik berupa sisa masakan, buah-buahan yang membusuk termasuk kulitnya, karton dan kertas. Sementara sampah anorganik seperti kaleng aluminium, styrofoam, kertas kaca, logam, kemasan plastik kaca hingga keramik.

Oleh karena itu, pihaknya menyediakan TPS 3R sebagai solusi penanganan sampah organik agar dapat didaur ulang dan mampu mengurangi residu saat dibuang ke Tempata Pembuangan Akhir (TPA).

Cara mengelola sampah organik relatif mudah karena dapat terurai secara hayati. Selain dibuang melalui TPA atau didaur ulang, sampah organik juga dapat dibakar.

"Namun, cara pembakaran tidak disarankan karena dapat menghasilkan asap beracun. Cara terbaik untuk mengelola sampah organik adalah dengan mendaur ulang," jelasnya.

Daur ulang dapat dilakukan pada sampah karton, dus, dan produk kertas lainnya digunakan kembali atau dijadikan bahan baku kertas dan sisa makanan dapat digunakan sebagai makanan hewan.

"Adanya TPS 3R ini lah maka sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, produksi biogas dan sampah juga bisa dikelola dengan budidaya mogot seperti di TPS 3R Merdeka ini," pungkasnya.

borneonews.co.id