Karang Raksasa Berusia Seribu Tahun Ditemukan di Laut Halmahera
DARILAUT.ID | 07/07/2020 15:55
Karang Raksasa Berusia Seribu Tahun Ditemukan di Laut Halmahera

Darilaut – Hasil penilaian atas keanekaragaman hayati laut di Halmahera, Provinsi Maluku Utara, terdapat sedikitnya 468 spesies karang keras di 24 situs.

Dari 468 spesises tersebut, terdapat pula koloni karang keras yang sangat besar diperkirakan berumur 1.000 tahun lebih.

Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan GR Allen dan tim mengenai keanekaragaman hayati dari Taksa karang keras.

Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan yang juga Wakil Direktur II program pascasarjana Universitas Khairun, Dr Abdurrachman Baksir mengatakan, posisi Halmahera dan ratusan pulau di Maluku Utara menjadi penting untuk pengembangan teori evolusi Alfred Russel Wallace.

“Kawasan ini berada di garis Katulistiwa dan Arlindo (Arus Lintas Indonesia atau Indonesian Through Flow),” ujar Baksir.

Menurut Christine L. Huffard, Mark V. Erdmann dan Tiene Gunawan (Ed, 2012) beberapa karang yang besar berumur sangat tua –sampai 1.000 tahun atau lebih– menunjukkan populasi karang yang sehat dan bertahan sangat lama.

Ekoregion Halmahera, secara keseluruhan terdapat kemiripan yang tinggi antara komposisi jenis karang dengan di Bentang laut Kepala Burung dan Bentang laut Laut Sulawesi.

Halmahera, Maluku Utara. GOOGLE EARTH

Namun demikian, terdapat beberapa perbedaan penting yang tampak antara ekoregion ini, yaitu pada komunitas karang.

Craterastrea leavis, jenis terumbu karang di perairan dalam yang langka dan hanya diketahui dari Chagos dan Laut Merah, juga tercatat di sini.

Selain itu, Allen telah mencatat keanekaragaman ikan pada terumbu karang, pengaruh “Halmahera Eddy” dan keragaman genetik.

Penelitian ini juga mencatat dampak erosi dan sedimentasi –termasuk dari pertambangan maupun perkebunan dan perikanan.

Menurut Huffard, Erdmann dan Gunawan (Ed, 2012), Halmahera memiliki kekayaan jenis organisme yang luar biasa tinggi di tiap lokasinya. Ada dua lokasi yang diketahui memiliki kekayaan jenis terumbu karang tertinggi per hektar terumbu karang.

Secara regional dan global, ekoregion Halmahera sangat signifikan sebagai tempat berkumpulnya jenis-jenis yang terancam punah atau jenis sebaran terbatas. Termasuk koridor migrasi, pantai tempat bertelur, lokasi-lokasi tempat memijah atau mencari makan, daerah asuhan.

Halmahera memiliki kisaran habitat yang beragam, oseanografi yang kompleks, dan keragaman yang sangat tinggi.

Kawasan ini membentuk rangkaian kesatuan yang sangat kompleks dengan keragaman jenis terumbu karang yang sangat tinggi, yang membentang mulai dari Semenanjung Kepala Burung dan bersambung ke Filipina melalui wilayah Laut Sulu-Laut Sulawesi.

Halmahera adalah titik Timur terjauh sebelum Laut Maluku. Dengan demikian, wilayah ini merupakan batu loncatan yang penting antara populasi Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Tengah.

Ikan dan Terumbu karang di Halmahera. FOTO: GR ALLEN

Adanya percampuran antara clade yang berbeda di wilayah ini menunjukkan adanya fenomena di pencampuran tersebut. Walaupun belum dikonfirmasi, nelayan setempat melaporkan adanya kelompok hiu paus musiman di dekat Teluk Kao.

Kepulauan Halmahera juga tempat penting bagi reptil. Suaka Margasatwa Memberamo-Foja memiliki populasi buaya Crocodylus porosus dan C. novaegunineae terbesar di dunia.
Populasi Penyu belimbing dari Jamursba-medi di Papua mencari makan di Halmahera.

Ekoregion ini juga memiliki pantai tempat bertelur Penyu hijau dan Penyu sisik yang berpencaran. Konsentrasi tertinggi untuk kepiting kelapa di Indonesia juga ditemukan di ekoregion ini.

Cincin pulau gunung berapi mulai dari Ternate sampai Makaian dan selat panjang yang membelah Bacan juga merupakan habitat unik di Halmahera. Pantai Utara Morotai di Indonesia juga unik karena menghadap ke lautan terbuka dan terkena hempasan gelombang besar Samudera Pasifik.

 
Terdapat pula ancaman, seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak dan sianida. Hal ini dapat menghancurkan bentuk terumbu karang.

Ancaman lainnya adalah penambangan pesisir seperti nikel, mangan, dan lain-lain. Ini merupakan ancaman yang besar terhadap kelangsungan hidup terumbu karang di wilayah ini. Tercatat pula, setiap tahun, kawasan di sekitar Teluk Kao berkembang alga yang membahayakan.*

DARILAUT.ID


BERITA TERKAIT