LIPI Menyoroti Limbah Medis Terkait Covid-19, Bagaimana Menanganinya?
DARILAUT.ID | 21/07/2020 15:01
LIPI Menyoroti Limbah Medis Terkait Covid-19, Bagaimana Menanganinya?

Darilaut – April lalu, Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) mengangkat permasalahan penanganan limbah medis terkait dengan virus corona, Covid-19.

Limbah infeksius ini berdampak menularkan penyakit yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan ke masyarakat. Karena itu, perlu dilakukan antisipasi dampak negatif dari limbah infeksius.

“Di sungai atau di pantai yang tadinya tidak ada limbah masker namun sekarang ditemukan. Di sinilah diperlukan peran kita untuk meringankan beban masyarakat dan negara dalam penanganan Covid-19,” ujar Deputi Ilmu Pengetahuan Bidang Teknik LIPI, Agus Haryono, dalam Webminar Hari Bumi ‘Penanganan Sampah/Limbah Medis Terkait Covid-19’.

Pos Terkait

Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) mengkategorikan limbah infeksius selain dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Kategori tersebut adalah limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga yang terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP), serta sampah rumah tangga dan sampah sejenis.

Berdasarkan penggolongan tersebut, sampah masker dan sarung tangan sekali pakai tidak hanya mencemari lingkungan namun dapat mengancam 300 ribu petugas persampahan yang bertugas di rumah-rumah warga dan 600 ribu pemulung. “Perlu pengelolaan dengan standar tertentu agar tidak menimbulkan permasalahan baru,” kata Agus.

 

Cara pengelolaan limbah infeksius di fasilitas pelayanan kesehatan berbeda dengan di lingkungan perumahan.

Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI, Ajeng Arum Sari mengatakan, limbah infekius fasillitas pelayanan kesehatan harus disimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari setelah dihasilkan.

“Limbah ini setelah disimpan harus dimusnahkan dengan fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran 800 derajat celcius,” ujar Ajeng.

Pemusnahan juga dapat menggunakan autoclave dengan pembakaran pada suhu 56°C/75°C/120-140°C. “Teknologi ini direkomendasikan karena tidak menimbulkan kerugian dan tidak mahal,” ujar Ajeng.

Menurut Ajeng, di lingkungan perumahan, sampah masker, tisu dan sarung tangan dipisahkan dari sampah biasa lalu digunting. Kemudian direndam di dalam larutan disinfektan sebelum dikemas khusus. Saat mengemas, sampah ditandai dan dibuang.

Kendala

Dalam pelaksanaannya, terdapat kendala pengelolaan limbah infeksius terutama ketersediaan insinerator.

“Di seluruh Indonesia hanya ada 110 rumah sakit yang memiliki insenerator sesuai standar dan telah berizin padahal pengelolaan limbah infeksius sangat penting di masa pandemi,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rosa Vivien Ratnawati.

Banyak fasilitas pelayanan Kesehatan yang tidak memiliki insinerator karena tidak adanya lahan juga terlalu dekat dengan masyarakat sehingga dikuatirkan menimbulkan emisi yang mengganggu.

Rosa mengatakan, kendala-kendala ini diminimalisir pemerintah salah satunya lewat kemitraan dengan Badan Usaha Milik Negara. “Selain itu, kami mendorong percepatan izin insenerator oleh rumah sakit dan mengoptimalisasikan pengolahan limbah oleh jasa pengangkut dan pengolah B3,” katanya.*

DARILAUT.ID


BERITA TERKAIT