Kapal MV Nur Allya Satu Tahun Hilang, KNKT: Kapal Mengalami Likuifaksi
DARILAUT.ID | 09/02/2021 16:15
Kapal MV Nur Allya Satu Tahun Hilang, KNKT: Kapal Mengalami Likuifaksi

Darilaut – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengambil kesimpulan bahwa muatan kapal MV Nur Allya mengalami likuifaksi. Kapal ini hilang kontak pada 21 Agustus 2019 lalu.

Dengan dilengkapi peralatan canggih, kapal riset Baruna Jaya IV telah melakukan investigasi keberadaan kapal Nur Allya.

Hal ini berdasarkan surat permintaan KNKT kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) No. IK.102/1/24 KNKT 2020. Surat ini tentang survei dan investigasi keberadaan Kapal MV Nur Allya.

BPPT menurunkan Kapal Riset Baruna Jaya IV, bersama kru dan tenaga ahli, serta didampingi tenaga ahli KNKT dan juga perwakilan PT Gurita Lintas Samuder.

Dalam acara media release laporan final bersama KNKT tentang Tenggelamnya Kapal MV Nur Allya secara daring Jumat (5/2), Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan survei investigasi keberadaan MV Nur Allya selama 22 hari, mulai 14 Agustus sampai dengan 4 September 2020.

Dalam misi pencarian Kapal Nur Allya tersebut, kata Hammam, BPPT telah melibatkan Balai Teknologi Survei Kelautan dengan mengerahkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya IV yang dilengkapi dengan peralatan canggih yang dibutuhkan dalam operasi SAR.

Selain itu, SDM yang berpengalaman dalam melaksanakan misi kemanusian dan investigasi hilangnya Kapal MV Nur Allya.

Kapal Riset Baruna Jaya IV mulai beroperasi dan melakukan pencarian berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilaksanakan KNKT dan Basarnas sebelumnya.

FOTO: BPPT/TWITTER

Survei ini berupa data lokasi ditemukannya beberapa indikasi awal anomali kemagnetan dengan lingkungan di sekitarnya yang ditangkap sebagai badan kapal yang terbuat dari logam.

Kemudian hasil metode Multi Beam Echo Sounder (MBES). Berdasarkan data MBES ini ditemukan 8 objek pengamatan yang dianggap sebagai bangkai kapal MV Nur Allya yang tenggelam di perairan laut Halmahera.

Namun dari 8 objek tersebut belum dapat memastikan keberadaan MV Nur Allya.

Hammam berharap, apa yang telah diupayakan bersama dengan KNKT ini sedikit banyak memberikan jawaban atas hilang kontaknya Kapal MV Nur Allya pada 21 Agustus 2019 lalu.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa dari hasil analisis kerusakan lifeboat, data AIS adanya signal EPIRB. Dari data hasil survei bawah air, keadaan laut yang cukup bergelombang dan khususnya data keadaan kadar air dari muatan pada nickle ore yang melebihi batas kadar air yang diizinkan dalam pengangkutan serta terjadinya hujan saat pemuatan. Maka dapat disimpulkan bahwa muatan Nur Allya mengalami likuifaksi.

Dari hasil analisis stabilitas yang telah dilakukan, maka tenggelamnya Nur Allya di Perairan Halmahera, Maluku Utara pada 21 Agustus 2019 diakibatkan Likuifaksi muatan nickel ore, dengan nilai momen likuifaksi 474.630,996 ton.

DARILAUT.ID


BERITA TERKAIT