Jeritan Nelayan Indonesia di Kapal Ikan Cina di Perairan Galapagos
DARILAUT.ID | 30/09/2021 20:21
Jeritan Nelayan Indonesia di Kapal Ikan Cina di Perairan Galapagos
Kapal-kapal pencuri ikan dari Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang dititipkan di PSDKP Batam, Kepulauan Riau, 18 April 2016. TEMPO/Angelina Anjar Sawitri

Darilaut – Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) ditemukan bekerja di kapal perikanan Cina yang beroperasi di perairan Galapagos.

Mengutip Sea Shepherd, saat diwawancarai seorang nelayan Indonesia di atas kapal Chang Tai 802, mengatakan kepada wartawan dan awak Sea Shepherd, telah terjebak di kapal itu dalam waktu lama.

“Saya ingin pulang,” kata nelayan ini.

Hampir satu setengah tahun setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global, nelayan itu bertanya kepada wartawan Associated Press, apakah virus itu sudah sampai di Amerika Serikat – berapa lama nelayan ini berada di laut.

Mengutip Associated Press, saat matahari akan terbenam, awak kapal Ocean Warrior berangkat dengan sampan untuk memeriksa dari kapal ikan Chang Tai 802.

Kapal ini salah satu dari 39 kapal yang dicurigai melakukan kerja paksa. Hal ini berdasarkan laporan Mei 2021 oleh Greenpeace yang mencatat adanya keluhan para pekerja kepada pihak berwenang Indonesia.

Terdapat enam pria semuanya orang Indonesia, berkumpul di buritan Chang Tai. Mereka tampak ramah dan terhibur melihat ada orang lain.

“Saya terjebak di sini,” katanya.

Seorang supervisor Cina muncul dan tampak kesal. Kemudian memerintahkan nelayan Indonesia ini untuk bekerja kembali.

Sehari kemudian, pengawas Cina bergerak cepat untuk memblokir semua pembicaraan apa pun dengan orang asing.

Tapi saat kapal Chang Tai akan bergerak, pria itu melempar botol plastik berisi nomor telepon saudaranya yang tertulis di selembar kertas.
Kerabat itu mengaku hanya tahu sedikit tentang bagaimana saudaranya direkrut atau kondisi pekerjaannya.

Sejak meninggalkan rumah tiga tahun lalu, setelah lulus dari sekolah kejuruan dengan sedikit prospek pekerjaan, hanya berkomunikasi dengan keluarganya secara sporadis.

Kerabat tersebut mengkhawatirkan kesehatan saudaranya dan mendesak agensi yang mempekerjakannya untuk membawanya pulang ke Indonesia.

Sumber: Seashepherdglobal.org dan AP


BERITA TERKAIT