Masih Awal 2022, Telah Terjadi 10 Perampokan Kapal di Selat Singapura
DARILAUT.ID | 23/02/2022 18:01
Masih Awal 2022, Telah Terjadi 10 Perampokan Kapal di Selat Singapura

Darilaut – Dalam tujuh minggu pertama di tahun 2022, terjadi 10 perampokan bersenjata terhadap kapal yang melintas di Selat Singapura.

ReCAAP ISC telah mengeluarkan peringatan baru dan melaporkan adanya peningkatan aktivitas kejahatan pada tahun 2022.

ReCAAP (Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia) Information Sharing Centre (ISC) adalah perjanjian kerjasama regional tentang pemberantasan pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal di Asia.

Mengutip Maritime-executive.com (21/2) perampokan laut sedang berlangsung di selat Singapura dan terus berlanjut. Karena itu, para pelaut perlu meningkatkan kewaspadaan dan selalui melakukan pengintaian saat transit di Selat Singapura.

ReCAAP ISC mengeluarkan peringatan berulang tentang kejahatan tingkat rendah yang konsisten terhadap kapal pada tahun 2021.

Berdasarkan peringatan terbaru, ada 10 kejadian tahun 2022 di sekitar Selat Singapura. Tujuh dari insiden terjadi di jalur timur selat dan empat di antaranya berada di kawasan padat, di lepas pantai Nongsa Point, Pulau Batam, Indonesia.

ReCCAP melaporkan bahwa empat insiden semuanya terjadi dalam rentang 10 hari, antara 8 dan 18 Februari. Tiga kejadian pada hari berturut-turut, antara 16 dan 18 Februari.

“ReCCAP ISC prihatin dengan insiden yang terus-menerus terjadi di Selat Singapura, khususnya peningkatan insiden di lepas pantai Nongsa,” tulis organisasi pemantau dalam laporannya pada 21 Februari.

“Karena pelaku tidak ditangkap, ada kemungkinan insiden berlanjut di Selat Singapura.”

ReCAAP mencatat dari semua kejadian tersebut tidak ada anggota kru yang diancam atau dilukai.

Biasanya, laporan tentang kru yang melihat, antara dua dan lima orang saat kapal mereka sedang berlayar.

Mereka menargetkan ruang mesin atau loker took. Dalam banyak kasus, saat terlihat atau kapal membunyikan alarmnya.

Dalam dua laporan terakhir, baik insiden di Pulau Bintan, pelaku dilaporkan bersenjata pisau atau satu membawa parang. Dengan menargetkan berbagai kapal dengan beberapa bulker dan tanker yang dilaporkan telah dinaiki, termasuk kapal tunda dan kapal yang mendukung industri lepas pantai.

Dalam kasus kapal tunda dan tongkang, satu pelaku dilaporkan telah mencuri besi tua dari tongkang sementara di bulker Theodor Oldendroff awak kapal melihat dua penumpang yang dilaporkan mencuri suku cadang mesin.

ReCAAP mendesak negara-negara di kawasan itu untuk meningkatkan patroli dan penegakan hukum di perairan teritorial mereka.

The ICC International Maritime Bureau (IMB) atau Biro Maritim Internasional melaporkan bahwa keseluruhan aktivitas pembajakan berada pada level terendah 28 tahun pada tahun 2021. Tetapi mereka juga menyoroti peningkatan aktivitas perampokan bersenjata di Selat Singapura.

Selat Singapura tetap menjadi salah satu yang paling berbahaya bagi pelaut.

Dalam laporan tahunannya, IMB mengatakan pada tahun 2021 terjadi peningkatan 50 persen dengan 35 insiden terhadap kapal yang berlayar di jalur lalu lintas yang sibuk, yang merupakan jumlah insiden tertinggi yang dilaporkan sejak 1992.

Selat Singapura

Sebanyak 35 insiden terhadap kapal yang berlayar di Selat Singapura dilaporkan ke Pusat Pelaporan Pembajakan pada tahun 2021, meningkat 50% dari tahun 2020 dan jumlah insiden tertinggi yang dilaporkan sejak 1992.

Sebagian besar kasus ini dianggap sebagai pencurian, meskipun dua awak terluka dalam dua kasus terpisah.

Kepulauan Indonesia

Sementara itu, di Kepulauan Indonesia IMB memuji pihak berwenang (Indonesian Marine Police) karena mempertahankan penurunan insiden.

Tahun 2020 di Indonesia terjadi 26 insiden, turun menjadi Sembilan kejadian di tahun 2021 atau terendah sejak 1993.

IMB melaporkan selama tahun 2021, kasus pembajakan kapal dan perompakan maritim di seluruh dunia mengalami penurunan secara global ke level terendah dalam beberapa dekade terakhir.

darilaut.id


BERITA TERKAIT