Perubahan Iklim Dapat Menyebabkan Kerugian Pengiriman $25 Miliar Setiap Tahun
DARILAUT.ID | 22/03/2022 13:00
Perubahan Iklim Dapat Menyebabkan Kerugian Pengiriman $25 Miliar Setiap Tahun
Dua laki-laki di Belgia terjebak dalam sebuah kontainer yang panas dan penuh dengan kokain. Sumber: Getty Images/iStockphoto

Darilaut – Industri pelayaran dan pelabuhan global sangat rentan terhadap kerusakan infrastruktur besar-besaran dan gangguan perdagangan akibat dampak perubahan iklim.

Laporan terbaru RTI International and the Environmental Defense Fund (EDF) menyebutkan perubahan iklim tersebut berpotensi menyebabkan kerugian pengiriman $25 miliar setiap tahun jika tidak ada tindakan nyata yang diambil untuk mengurangi emisi.

Mengutip Maritime-executive.com, Senin (21/3) perubahan iklim berpotensi menyebabkan kerusakan tahunan pada infrastruktur pelabuhan yang dapat mencapai hampir $18 miliar pada tahun 2100.

Lebih buruk lagi, gangguan pelabuhan terkait badai dapat menambah kerugian sebesar $7,5 miliar setiap tahun.

Hal ini mencerminkan kerugian ekonomi yang dapat ditimbulkan dalam aktivitas pelabuhan, pengirim dan pengangkutan karena penutupan pelabuhan dan biaya untuk pengiriman pelanggan.

Dalam laporan tersebut, biaya tambahan di masa depan karena perubahan iklim ini kira-kira setara dengan total pendapatan bersih tahunan untuk sektor pelabuhan peti kemas pada 2019.

Manajer senior tim Transportasi Global EDF, Marie Hubatova, mengatakan, sama seperti pandemi Covid-19 yang membuat pelabuhan kami dan rantai pasokan global ke mode krisis, darurat iklim akan memiliki konsekuensi besar untuk pengiriman internasional.

Namun, menurut Hubatova, dalam menghadapi kerusakan iklim, industri perkapalan memiliki alarm peringatan dini dan kesempatan untuk bertindak.

Hubatova mengatakan dengan meningkatkan pengurangan emisi dan berinvestasi dalam bahan bakar tanpa karbon, para pemimpin pelayaran dapat membantu menghindari konsekuensi yang mahal dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan untuk industri maritim yang kritis.

Laporan EDF menyatakan bahwa pelayaran internasional telah berkembang pesat selama seperempat abad terakhir, lebih dari dua kali lipat dalam volume perdagangan tahunan.

Karena pertumbuhan yang dikombinasikan dengan ketergantungan pengiriman menggunakan bahan bakar yang menyebabkan polusi, industri ini telah menjadi penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) yang besar. Industri perkapalan menyumbang sekitar 20 persen emisi global dari sektor transportasi.

Secara efektif, kenaikan permukaan laut, peningkatan badai dan banjir merupakan dampak dari perubahan iklim. Hal ini merupakan ancaman langsung terhadap infrastruktur dan operasi pelayaran.

Dengan perdagangan global yang diperkirakan akan tumbuh di masa depan, berarti peningkatan volume barang yang diangkut melalui laut, perubahan iklim muncul sebagai risiko utama terhadap volume perdagangan maritim.

Dengan asumsi tingkat pertumbuhan yang stabil, perdagangan global diperkirakan akan tumbuh mencapai 120 miliar ton pada tahun 2100.

Di bawah skenario iklim terburuk, pertumbuhan itu dapat terhambat hingga hampir 10 persen.

“Laporan kami menggunakan informasi terbaik yang tersedia untuk melukiskan gambaran biaya ekonomi sebenarnya dari perubahan iklim pada pelayaran internasional, kenyataannya adalah bahwa angka-angka ini kemungkinan meremehkan skala total konsekuensinya,” kata George Van Houtven dari RTI.

Pengiriman global menghasilkan dua hingga tiga persen emisi gas rumah kaca global. Pemilik kapal dan pelabuhan terkemuka memimpin transisi ke pelayaran hijau untuk mengurangi biaya perubahan iklim di masa depan, membuat investasi baru dalam bahan bakar dan teknologi nol-emisi. 

Banyak pemimpin pelayaran telah mendukung seruan untuk bertindak melalui Koalisi Getting to Zero. Koalisi ini bertujuan untuk pengembangan dan penyebaran kapal laut yang layak secara komersial dengan nol-emisi pada tahun 2030.

“Laporan ini hanya memperkuat kasus bisnis untuk memulai dekarbonisasi pengiriman sekarang, menekankan bahwa transisi energi yang adil dan merata adalah peluang bagi sektor swasta dan negara berkembang,” kata Direktur Proyek di Forum Maritim Global, Ingrid Sidenvall Jegou.

Sumber: Maritime-executive.com

darilaut.id


BERITA TERKAIT