Lebih 1000 Orang Terdampak Pergerakan Tanah di Kabupaten Bogor
DARILAUT.ID | 22/09/2022 17:24
Lebih 1000 Orang Terdampak Pergerakan Tanah di Kabupaten Bogor
Warga menunjukkan bangunan yang terdampak pergerakan tanah di Desa Girimukti, Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin, 8 Februari 2021. Tak hanya di Garut, pergerakan tanah juga terjadi di Tasikmalaya dan membuat sejumlah bangunan rusak. ANTARA/Candra Yanuasryah

Darilaut – Lebih dari 1.000 warga terdampak pergerakan tanah di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Sebelumnya, sebanyak 41 warga Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, mengungsi di dua titik lokasi yang lebih aman setelah tempat tinggal mereka mengalami kerusakan akibat adanya fenomena pergerakan tanah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor pada Selasa (20/9) mencatat warga terdampak akibat pergerakan tanah yang terjadi di wilayah Kabupaten Bogor, bertambah menjadi 278 KK atau 1.020 jiwa.

Data BPBD Kabupaten Bogor sebanyak 246 unit rumah terdampak, sedikitnya 9 unit rumah rusak berat dan 73 unit rumah rusak sedang.

Selanjutnya, 1 unit fasilitas pendidikan dan mushola juga terdampak. Ruas jalan Kampung Curug juga mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilewati semua jenis kendaraan.

Sebanyak 11 KK (41 jiwa) masih bertahan di pengungsian mengingat situasi saat ini masih belum kondusif dan masih terjadi pergerakan tanah di wilayah tersebut.

Tempat pengungsian berada di Villa Roso, Kampung Curug, RT 02 RW 09 Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang dan Posko BPBD Kabupaten Bogor.

Petugas BPBD yang dibantu dinas-dinas terkait memberikan pelayanan dasar kepada mereka yang mengungsi.

Sementara itu, listrik telah dipadamkan untuk menghindari adanya hubungan arus pendek maupun hal lain yang tidak diinginkan. Jalan darurat juga sedang dibangun warga.

Berdasarkan analisis gerakan tanah dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, termasuk wilayah dengan potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi.

Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk tetap waspada dan siaga terhadap potensi bencana susulan. Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah terancam gerakan tanah bisa melakukan evakuasi sementara ke tempat yang lebih aman hingga situasi kondusif sesuai dengan arahan pemerintah daerah setempat.

Mengantisipasi potensi ancaman bencana hidrometerologi basah seperti tanah longsor, BNPB juga mengimbau agar melakukan upaya seperti monitoring lereng perbukitan, lereng tebing dan saluran air secara berkala untuk mengurangi potensi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi tata ruang lingkungan.

Apabila terjadi hujan dalam durasi lebih dari satu jam, maka masyarakat yang tinggal di lereng tebing agar mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.

 

**


BERITA TERKAIT