Fakta-fakta Pelita Air yang Dikabarkan Akan Gantikan Garuda Indonesia
LANGGAM.ID | 25/10/2021 20:13
Fakta-fakta Pelita Air yang Dikabarkan Akan Gantikan Garuda Indonesia
Ilustrasi Garuda Indonesia. TEMPO/Tony Hartawa

Langgam.id – Pelita Air dikabarkan akan menggantikan perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo membenarkan adanya rencana pemerintah menjadikan Pelita Air sebagai maskapai berjadwal.

 

Dia menjelaskan rencana tersebut telah disiapkan untuk mengantisipasi apabila restrukturisasi dan negosiasi yang sedang dijalani Garuda Indonesia tak berjalan mulus.

Dibangun sejak 1970, Pelita awalnya merupakan maskapai milik PT Pertamina (Persero), namun kini berdiri di bawah naungan PT. Pelita Air Service (PAS) dan berfokus melayani penerbangan untuk sewa atau carter.

Berikut ini sejumlah fakta tentang kabar Pelita Air yang akan menggantikan Garuda Indonesia dilansir dari Tempo.co.

Alasan memilih Pelita Air

Pemerintah memiliki alasan menyiapkan Pelita Air sebagai pengganti Garuda. Meski Garuda bisa diselamatkan, nyaris mustahil maskapai itu dapat bisa melayani penerbangan jarak jauh lagi, misalnya ke Eropa.

Karena itu, untuk melayani penerbangan internasional, maskapai asing akan digandeng sebagai partner maskapai domestik.

Contohnya, London–Denpasar dilayani maskapai asing untuk rute London–Jakarta, sedangkan Jakarta–Denpasar dilayani maskapai domestik.

Pelita Air tetap jadi maskapai full service domestik meski restrukturisasi Garuda berhasil

Untuk mengantisipasi jika opsi penutupan Garuda dilakukan, Kementerian BUMN telah menyiapkan transformasi maskapai Pelita Air dari air charter menjadi maskapai full service domestik.

Dalam hal ini, Pelita disiapkan menggantikan Garuda karena seluruh sahamnya juga dimiliki oleh BUMN, yaitu Pertamina.

Jika restrukturisasi utang Garuda ternyata berhasil, Pelita Air tetap bakal dioperasikan sebagai maskapai full service domestik.

Proses izin Pelita Air sebagai maskapai berjadwal

Kementerian Perhubungan masih memproses dokumen perizinan yang diajukan Pelita Air Service sebagai maskapai layanan berjadwal.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Novie Riyanto menjelaskan, Pelita Air sudah mengajukan surat izin usaha angkutan niaga berjadwal dan Sertifikat Operator Pesawat Udara (Air Certificate Operator/AOC).

Kondisi Garuda Indonesia saat ini

Garuda disebut-sebut memiliki utang hingga Rp 70 triliun atau US$ 4,9 miliar. Utang Garuda jumlahnya bertambah lebih dari Rp 1 triliun per bulan seiring dengan penundaan pembayaran tanggungan.

Membengkaknya biaya leasing disebabkan oleh armada yang jumlahnya terlalu banyak dan spesifikasinya tidak cocok dengan karakter maskapai.

Garuda saat ini memiliki Boeing 737, Boeing 777, Airbus A320, Airbus A330, ATR, dan Bombardier. Banyaknya jenis armada itu mengakibatkan inefisiensi dalam perawatan, manajemen operasional penerbangan, hingga pelatihan kru kabin.

Saat ini Garuda masih menjajaki negosiasi dengan lessor dan krediturnya untuk merelaksasi utang.

Di tengah proses restrukturisasi, kondisi arus kas dan operasi harian maskapai pelat merah dilaporkan sangat minim. Jadwal dan frekuensi penerbangan emiten itu sangat tergantung pada kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat.

Kondisi Garuda pun akan semakin rentan dengan arus kas yang kian tipis apabila timbul kebijakan pengetatan pergerakan kembali ke depannya.

--


BERITA TERKAIT