Petani di Solok Menjerit Harga Bawang Merah dan Tomat Anjlok
LANGGAM.ID | 25/11/2021 08:00
Petani di Solok Menjerit Harga Bawang Merah dan Tomat Anjlok
Seorang petani membawa sejumlah bawang merah saat panen, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram.TEMPO/Imam Sukamto

Langgam.id – Para petani di Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar) menjerit akibat harga jual bawang merah dan tomat merosot tajam. Penurunan harga juga diikuti dengan kenaikan harga pupuk.

“Sekarang sangat luar biasa anjloknya harga bawang merah dan tomat,” kata Fajar Sarli, salah seroang petani di Nagari Limau Lunggo, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok saat dihubungi langgam.id, Rabu (24/11/2021).

 

Fajar menyebutkan, untuk harga jual tomat saat ini hanya Rp500 per kilogram. Harga ini turun drastis dari normalnya sebesar Rp3.000 per kilogram.

“Bawang merah sekarang Rp5.000, normalnya Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram. Turunnya harga jual ini dirasakan petani sejak sebulan belakangan,” jelasnya.

Fajar saat ini terpaksa tak menggarap ladang miliknya akibat dampak anjloknya harga bawang merah tersebut. Sebab pada masa panen terkahir dirinya mengalami kerugian cukup besar.

“Bibit bawang merah 150 kilogram habis modal Rp10 juta. Kalau tomat modalnya sejak awal sampai panen kisaran Rp7 juta sampai Rp8 juta. Kalau penjualan usai panen tidak sampai balik modal,” ujarnya.

“Kemarin saya tanam bawang merah dengan modal Rp8 juta. Pas panen dijual hanya dapat Rp3 juta, 70 persen uang melayang. Kalau sekarang cuaca juga tidak mendukung untuk tanaman lainnya. Lahan saya kosong sekarang,” sambung Fajar.

Ia tidak mengetahui pasti penyebab anjloknya harga jual bawang merah dan tomat di tingkat petani. Namun menurut informasi yang didapatnya, hal ini disebabkan masa panen cukup.

“Informasinya tomat banjir panen dari Aceh hingga Bengkulu. Kalau bawang kurang tahu. Bawang sama tomat dari Solok ini biasanya dijual pedagang ke luar Sumbar seperti Pekanbaru, Dumai hingga Bangka Belitung,” tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Imran Syahrial mengakui, tanaman komoditas hortikultura memiliki kelemahan. Salah satunya soal fluktuasi harga.

 

“Beda dengan tanaman padi. Pada tanaman bawang dan cabai cukup tinggi fluktuasi harganya. Bawang merah dua sampai tiga bulan lalu kita ketahui cukup tinggi harganya,” kata Imran.

Ia mengatakan, banyak para petani menanam bawang merah, sehingga masa panen pada bulan ini cukup tinggi. Hal ini menjadi faktor penyebab turunnya harga bawang merah.

“Ditambah panen bawang merah juga terjadi di Pulau Jawa. Sehingga harga turun, suplai banyak. Banyak petani menanam bawang, biasanya di Alahan Panjang, tapi di tempat lain juga,” kata dia.

“Kemudian di Sumbar, bawang merah biasanya Kabupaten Solok dan Solok Selatan. Sekarang petani di kabupaten lainnya juga menanam bawang merah. Artinya, panen bawang merah bulan ini cukup tinggi,” sambungnya.

Imran mengungkapkan, untuk mengantisipasi masalah ini, pihaknya berupaya membina kelompok tani agar hasil komoditas tidak hanya mengharapkan bahan mentah. Tapi juga dapat diproduksi menjadi bahan olahan.

“Diolah menjadi bahan olahan seperti minyak goreng, goreng bawang, minyak bawang, ini kami arahkan. Dari segi menahan agar tidak dijual cepat, agar disimpan di gudang sehingga bisa membuat kualitas bawang tetap bagus,” ujarnya.

langgam.id


BERITA TERKAIT