Panen Bawang Merah di Paron Kediri Hancur Diserang Ulat
BACAINI.ID | 03/09/2021 06:25
Panen Bawang Merah di Paron Kediri Hancur Diserang Ulat
Seorang petani membawa sejumlah bawang merah saat panen, di desa Pejagan, Brebes, Jawa Tengah, Minggu (29/12). Harga bawang merah saat ini mengalami penurunan harga secara drastis Rp 8 ribu per kilogram dari Rp. 20ribu per kilogram.TEMPO/Imam Sukamto
 

Bacaini.id, KEDIRI – Panen raya bawang merah di Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri menyisakakan kesedihan. Alih-alih berharap untung, petani bawang justru buntung akibat tanaman mereka diserang ulat grayak.

Panen raya yang diharapkan menjadi harapan di tengah pandemi dan PPKM tak bisa dinikmati petani. Hama ulat grayak membuat hasil panen anjlok mencapai 70 persen.

“Hasil panennya kecil-kecil, beratnya tidak sesuai dengan harapan. Karena hama itu kualitas panennya jadi jelek, bisa dikatakan kita mengalami gagal panen,” kata Abidin salah satu petani bawang merah kepada Bacaini.id, Jumat, 3 September 2021.

Akibat terserang hama ulat grayak, bawang merah yang ditanam di lahan seluas 1.400 meter persegi miliknya hanya menghasilkan 7,17 kwintal. Berbeda jauh ketika kondisi normal yang biasa mencapai 2 ton setiap kali musim panen.

Serangan hama ulat grayak ini sudah terjadi dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Secara keseluruhan di Desa Paron, terdapat lahan seluas 3,5 hektar dan 90 persen tanaman terserang hama sehingga menyebabkan gagal panen.

“Saat ini memang sudah masuk musim panen, jadi kerugian yang dialami petani bawang merah sangat luar biasa,” keluh Abidin.

Tidak hanya hasil dan kualitas hasil panen yang menurun drastis. Hari ini, harga bawang merah juga mengalami penurunan. Abidin mengaku untuk menanam bawang merah di lahan 1.400 meter persegi membutuhkan modal sebanyak 12 juta.

Hasil panennya musim ini sebanyak 7,17 kwintal hanya laku dengan harga 10 ribu setiap satu kilogram. Jika dihitung total hasil penjualan hanya sebesar Rp 7.170.000. Itu pun masih dikurangi untuk biaya panen dan tenaga bantuan.

“Dari modal awal, minus 5 juta. Harga 10 ribu itu saya jual ke pengecer. Kalau tingkat tengkulak harganya kisaran 7-8 ribu, padahal normalnya di pasar itu antara 12-14 ribu. Kerugiannya sudah sangat jelas,” terangnya.

Mewakili petani bawang merah di Desa Paron, Abidin berharap pemerintah Kabupaten Kediri melalui dinas terkait bisa lebih peduli dan membantu para petani bawang merah. Karena potensi bawang merah bisa dikatakan cukup besar hingga mendekati sentra.

“Sayang sekali jika potensi ini dikesampingkan. Selain potensi yang cukup bagus, banyak warga yang hidup dari hasil bertani bawang merah. Kondisi ini paling parah yang pernah kita alami,” pungkasnya.

Penulis: Novira Kharisma
Editor: HTW

Tonton video:

The post Kasihan Petani, Panen Bawang Merah Hancur Diserang Ulat appeared first on Bacaini.id.


BERITA TERKAIT