Tolak Pembangunan PLTA Pokko, Dua Kades Kirim Surat ke Bupati
KABARMAKASSAR.COM | 02/12/2021 11:23
Tolak Pembangunan PLTA Pokko, Dua Kades Kirim Surat ke Bupati
Suasana rumah generator Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu, 21 November 2018. PLTA Cirata yang memiliki delapan turbin tersebut mampu menghasilkan maksimal 1.008 megawat dengan tegangan 500 kilo volt. ANTARA/Raisan Al Farisi

KabarMakassar.com -- Rencana pembangunan proyek nasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pokko yang bertempat di kawasan Desa Lembang Mesakada dan Desa Suppirang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang ditolak keras oleh warga setempat.

Hal itu berdasarkan surat penolakan proyek nasional tersebut dari kepala Desa Lembang Mesakada dan kepala Desa Suppirang.

Melalui Sekertaris Daerah Pinrang, Budaya Hamid membenarkan adanya surat penolakan tersebut.

"Benar, kami sudah menerima surat dari kepala Desanya dan ada juga beberapa surat penolakan yang telah kami terima. Rata-rata masyarakat disana menolak pembangunan itu,"pungkasnya, Rabu (1/12).

Ia menjelaskan, pihaknya belum bisa mengambil keputusan terkait surat penolakan itu. Hanya saja dirinya berjanji melalui pemerintah daerah akan melakukan mediasi dengan pihak-pihak terkait.

"Pemda belum bisa mengambil kebijakan terkait pembangunan PLTA, itu proyek nasional. Kami kaji dulu, dan baru mau bersurat dulu dengan pihak terkait untuk dilakukan mediasi dengan warga disana,"jelasnya.

Berikut 7 poin surat penolakan dari Kepala Desa Lembang Mesakada

1. Dusun Londe yang berjumlah 179 kepala keluarga dan 752 jumlah jiwa, Dusun Makula 176 kepala keluarga dan 669 jumlah jiwa akan terisolasi karena tidak ada lagi akses ke tempat sentra-sentra perekonomian apalagi pendidikan untuk anak-anak semakin tak terelakkan lagi dan akhirnya anak-anak akan putus sekolah.

2. Mata pencaharian masyarakat sawah, Ladang dan kebun yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setiap hari akan hilang karena tidak ada lagi tempat yang layak untuk masyarakat tinggal.

3. Budaya masyarakat yang menjadi simbol pemersatu akan hilang tanpa bekas lagi (punah).

4. Beberapa makam para leluhur dan Patone akan hilang yang menjadi simbol masyarakat.

5. Beberapa rumah-rumah ibadah seperti Gereja sebagai tempat masyarakat beribadah akan hilang.

6. Beberapa bangunan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang akan hilang.

7. Puskesmas Pembantu (PUSTU) akan hilang.

Melihat fenomena yang akan timbul akibat pembangunan PLTA Pokko ini dan berdasarkan hasil pertemuan dengan seluruh masyarakat, pemangku adat, tokoh masyarakat menyatakan MENOLAK pembangunan proyek PLTA Pokko di desa kami, dan untuk menyatakan MENOLAK rencana pembangunan proyek PLTA Pokko di desa kami.

Besar harapan kami kepada bapak Bupati Pinrang untuk mengabulkan permohonan kami ini. Atas bantuan Bapak Bupati Pinrang kami haturkan banyak terima kasih, Makula, 30 November 2021.

 


BERITA TERKAIT