Wali Kota Makassar Imbau ASN Gunakan Ojol, Ini Tanggapan Pengamat Transportasi
KABARMAKASSAR.COM | 19/09/2022 14:45
Wali Kota Makassar Imbau ASN Gunakan Ojol, Ini Tanggapan Pengamat Transportasi
Pengemudi ojek online (ojol) menunggu penumpang di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, Senin 21 September 2020. Minimnya pengawasan, pengemudi ojol masih banyak ditemukan berkerumun saat menunggu penumpang. Padahal, Pemprov DKI Jakarta telah membuat larangan ojol dan ojek pangkalan berkumpul lebih dari lima orang serta menjaga jarak sepeda motor minimal dua meter. TEMPO/Subekti

KabarMakassar.com -- Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto menghimbau seluruh pegawai dalam lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk menggunakan jasa transportasi online (Ojol) setiap hari Selasa.

Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Makassar, Andi Siswanta Attas saat dikonfirmasi mengatakan himbauan tersebut dilakukan setiap hari Selasa mulai pekan depan.

Para pegawai dihimbau menggunakan Ojol guna untuk mengendalikan inflasi dan pengurangan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).

"Yes, setiap hari Selasa," ungkapnya, Sabtu, 17 September 2022.

Sementara itu, Pengamat Transportasi Makassar, Munzil memprotes kebijakan yang dikeluarkan Walikota Makassar yang akrab dengan sapaan "Danny Pomanto" itu.

Ia mengatakan, himbauan pegawai menggunakan jasa Ojol dirasa belum tepat sepenuhnya dikarenakan tidak melibatkan jasa transportasi lainnya seperti bus metromini (Pete-pete) dan bentor.

Selain itu, ia juga menyayangkan kebijakan Danny Pomanto yang belum memaksimalkan bus transportasi umum Teman Bus Mamminasata.

"Saya mengatakan ini belum tepat sepenuhnya. Kenapa cuma Ojol padahal ada banyak jasa transportasi lain seperti Pete-pete dan bentor. Apalagi Teman Bus sudah beroperasi di Makassar harusnya itu dimaksimalkan," ungkapnya, Minggu (18/09).

Pihaknya juga mempertanyakan indikator atau tolak ukur yang digunakan Danny Pomanto dalam mengatur inflasi dan pengurangan penggunaan BBM sebagai alasan pengambilan kebijakan penggunaan Ojol setiap hari Selasa bagi pegawai.

Ia menjelaskan, apabila kebijakan tersebut untuk menekan inflasi dan pengurangan BBM, mengapa hanya dilakukan setiap hari Selasa.

Menurutnya, penggunaan Ojol setiap hari Selasa justru menimbulkan pengeluaran yang banyak bagi pegawai dibandingkan dengan menggunakan kendaraan pribadi mereka masing-masing.

"Apa tolak ukur menekan inflasi. Justru itu menimbulkan pengeluaran di kalangan pegawai dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi mereka. Kalau menekan inflasi jangan cuma hari Selasa," sambungnya.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut harus dievaluasi untuk menentukan apakah dirasa efektif menekan laju inflasi atau tidak sama sekali.

"Harus ada evaluasi kembali minimal dua bulan pertama, apakah efektif, apakah terjadi penurunan atau bagaimana," pungkasnya.

 

**


BERITA TERKAIT