Danny Pomanto Gagal Bertarung, Muncul Relawan Kotak Kosong di Pilwakot Makassar
KABARMAKASSAR.COM | 05/06/2018 16:16
Danny Pomanto Gagal Bertarung, Muncul Relawan Kotak Kosong di Pilwakot Makassar
Para demonstran saat mendeklarasikan REWAKO Makassar di bawah Flyover Makassar pada Selasa, 5 Juni 2018.(Foto: KabarMakassar.com)

KabarMakassar.com -- Fenomena kotak kosong pada Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar menjadi tamparan keras bagi sebagian warga kota Makassar terkhusus para pendukung mantan Pasangan Calon (Paslon) Danny Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi).

Masyarakat Kota Makassar yang tergabung dalam Relawan Kolom Kosong (REWAKO) Makassar mendeklarasikan dirinya sebagai bentuk kekecewaan masyarakat setelah gugurnya calon petahana Danny PomantoMohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi) dalam Pilwalkot Makassar.

Koordinator Relawan Kolom Kosong (REWAKO) Anshar Manrulu menganggap pilwalkot Makassar hampir sama dengan sepak bola Italia.

"Pilwakot sekarang bisa kita samakan dengan sepak bola Italia, kita seolah-olah disuguhi suatu pertandingan, tetapi ada kekuatan besar yang mengatur pertandingan itu," ungkapnya saat deklarasi REWAKO Makassar di bawah Flyover Makassar, selasa, 5 Juni 2018.

Anshar menggambarkan euforia Pilwalkot Makassar sama halnya dengan euforia pertandingan sepak bola Italia, dimana masyarakat seakan-akan disuguhkan sebuah pertandingan yang adil namun terdapat kekuatan besar yang telah mengatur hasil pertandingan.

Analogi Anshar bisa jadi merujuk kepada pihak penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) terkhusus Pilwalkot Makassar, mengingat Pilwalkot Makassar diwarnai banyak drama yang dimulai dengan gugatan Paslon pertama Appi-Cicu yang dimenangkan pada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Makassar disusul saling gugat satu sama lain baik dari Paslon hingga penyelenggara pemilu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar akhirnya membatalkan penetapan paslon petahana nomor urut 2 yakni DIAmi dengan mencabut SK No 35 yang memuat nama dua paslon dalam sidang pleno yang berlangsung kurang lebih dua jam di kantor KPU Makassar di Kantor KPU Makassar pada bulan April lalu.

Andhar menambahkan bahwa kehadiran satu paslon dalam sebuah Pemilu merupakan tanda mundunya demokrasi di Indonesia khususnya Makassar.

"Ini menandai bahwa demokrasi kita sekarang mengalami kemunduran, ini tidak boleh di biarkan dan ini menjadi contoh buruk di kalangan masyarakat kota Makassar," tambahnya.

Dia berharap agar rakyat kota Makassar harus bersatu, bergotong royong memenangkan kolom kosong pada pilwalkot kali ini.

[Wahyu Ilahi]


BERITA TERKAIT