Program Desa Mandiri Bisa Contoh Tata Kelola Desa Wedomartani
Info Teras | 11/10/2021 13:34
Program Desa Mandiri Bisa Contoh Tata Kelola Desa Wedomartani

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Diah Pitaloka menilai tata kelola Desa Wedomartani di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bisa menjadi desa percontohan untuk desa-desa lain. Karena desa tersebut membuat tata kelola yang mengedepankan perlindungan anak dan perempuan, dan menjadi desa mandiri, seperti membuat kerajinan, pengolahan makanan, hingga adanya tim satgas bencana. Baik pemuda Karang Taruna maupun kaum perempuannya mempunyai produk lokal yang bisa dipasarkan.

“Kepekaan sosial diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan desa, dan mereka mempunyai masing-masing kegiatan sosial ke masyarakatnya. Dan dengan adanya kegiatan ini, tingkat kekerasan yang ada di desa ini pun menurun dari tahun ke tahun setelah adanya kesadaran pemerintahan desa untuk lebih memprioritaskan perlindungan anak dan perempuan,” jelas Diah usai meninjau pameran produk oleh masyarakat Desa Wedomartani, di Sleman, DIY, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Politisi PDI-Perjuangan itu menambahkan bahwa anggaran kegiatan tersebut bersumber dari anggaran desa dan juga di-support anggaran dari Pemerintah Kabupaten Sleman untuk kegiatan perempuan dan anak. Kegiatan ini pun sudah berjalan kurang lebih selama lima tahun, yang menghasilkan tren kekerasan kepada perempuan dan anak yang terus menurun.

“Ini merupakan program yang sangat bagus, agar masyarakat desa bisa melakukan kegiatan yang positif, dari anggaran desa dan Pemerintah Kabupaten Sleman yang dikeluarkan dan dimanfaatkan dengan kegiatan yang bisa menambah kreatifitas masyarakat, dan juga kegiatan-kegiatan solidaritas lainnya. (Dan) dilihat dari tren kekerasan terutama kepada perempuan dan anak pun terus menurun dari tahun ke tahun,” apresiasi legislator dapil Jawa Barat III itu.

Diah pun berharap potensi dan peluang ini terus dikembangkan dan diwujudkan. Masyarakat bisa membuat pelayanan yang lebih profesional ke depannya. “Potensi itu seperti memberikan pelayanan yang lebih profesional, seperti ruang perlindungan perempuan dari kekerasan, juga pendampingan kepada korban kekerasan, klinik khusus ibu dan anak, dan juga tempat untuk penitipan anak. Masih banyak peluang yang masih bisa dibina lagi ke depannya untuk mewujudkan desa ramah perempuan dan anak,” saran Diah.