Cerita Warga Cilacap Mengais Ceceran Kedelai di Jalan Pelabuhan Tanjung Intan
Iqbal Muhtarom | 21/05/2018 09:21
Cerita Warga Cilacap Mengais Ceceran Kedelai di Jalan Pelabuhan Tanjung Intan
SEJUMLAH warga mengumpulkan ceceran kedelai yang terjatuh saat diangkut truk keluar dari Pelabuhan Tanjung Intan, Jumat (18/5).SATELITPOST/RENNY TANIA

Satelitpost, Cilacap – Setiap pagi, Mbah Wir, warga Tambakreja, Cilacap Selatan mempunyai kesibukan ditengah-tengah usianya yang sudah menginjak 75 tahun. Dari rumahnya di Jalan Niaga, Mbah Wir akan berjalan menuju Jalan Kendil Wesi.   

Disana, Mbah Wir akan menanti truk-truk yang kelur dari Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Jalan Kendil Wesi, Kecamatan Cilacap Selatan yang letaknya tak jauh dari rumahnya, merupakan jalur keluar masuk truk-truk yang mengangkut muatan dari Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.

Truk-truk  tersebut biasanya berisi batubara, gula pasir, pupuk, bahkan kedelai. Disitulah setiap pagi Mbah Wir menaruh harap: ceceran muatan yang jatuh dari truk. Berdiri sejenak, kemudian dengan cepat memunguti kedelai yang berceceran saat ada truk bermuatan yang melintas.

Mbah Wir tidak sendirian, ada beberapa warga lain yang ikut mengambil kedelai yang jatuh berceceran di sepanjang Jalan Kendil Wesi. Ada yang menggunakan sapu lidi ada juga yang  memungutinya dengan menggunakan tangan.

Mbah Wir mengatakan pekerjaan ini tidak setiap hari ia lakoni. Memunguti ceceran kedelai ini ia lakukan hanya pada saat ada kapal yang membongkar muatan di Pelabuhan Tanjung Intan. “Sejak Senin kemarin datangnya, biasa kalau kapalnya datang pada ngambilin kedelainya yang pada jatuh,” ujarnya saat ditemui di Jalan Kendil Wesi, Jumat 18 Mei 2018 lalu.

Setiap hari, dia biasa mulai mengais sejak pukul 08.00 WIB pagi. Dia akan berhenti, ketika dirasa sudah capai mengambil kedelai yang terjatuh ini. Kedelai yang berhasil dikumpulkannya kemudian dimasukkan ke kantung plastik. Hasilnya, 1-2 kg kedelai.

Kedelai yang didapatnya ini, kata dia, tidak dijual, melainkan dikonsumsi sendiri. “Kalau saya biasanya di sayur bening, kalau dijual juga murah Rp 6 ribu/kg,” katanya.

Meskipun, truk yang yang melintas ukurannya besar-besar, warga mengaku tidak khawatir. Yanti, warga Kebon Sayur mengaku tak punya kekhawatiran terserempet atau tertabrak truk. “Ngga ,paling debunya yang ngga tahan, apalagi pas truk batubara yang lewat,” ujarnya.

Dia yang juga membawa serta anaknya ini mengatakan biasanya kapal yang mengangkut kedelai ini bersandar di pelabuhan sekitar 1 pekan. Sehingga dimanfatkan olehnya, yang memang tidak bekerja.

“Kalau habis beres-beres rumah selesai, ke sini. Kedelainya bisa dimasak, dibuat susu kedelai, kalau dapat banyak ya dijual,” katanya.

Menurutnya, ceceran biji kedelai ini lebih banyak jika berada di dalam pelabuhan. Akan tetapi, warga dilarang untuk mengumpulkan ceceran kedelai ini. Terlihat ada sekitar 10 warga yang mengumpulkan ceceran di sepanjang Jalan Kedil Wesi ini. Ternyata tidak hanya siang hari warga  mengumpulkan ceceran kedelai ini, tetapi juga pada malam hari. (ale)

Sumber: Satelitpost.com

Klik halaman depan Teras.id untuk melihat berita terbaru


BERITA TERKAIT