Menpora Susun Grand Design Olahraga, Akan Lahirkan Zohri Baru
TEMPO.CO | 27/05/2020 07:45
Atlet Indonesia membawa bendera merah putih usai bertanding dalam babak final Lari Estafet 4 x 100 meter putra di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis 30 Agustus 2018. Tim estafet putra Indonesia berisikan Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan,
Atlet Indonesia membawa bendera merah putih usai bertanding dalam babak final Lari Estafet 4 x 100 meter putra di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis 30 Agustus 2018. Tim estafet putra Indonesia berisikan Fadlin, Lalu Muhammad Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pemuda dan Olahraga sedang menyusun Grand Design Olahraga Nasional. Menpora Zainudin Amali mengatakan grand design itu bakal mencakup pemetaan situasi dan kondisi olahraga sekarang serta harapan ke depan.

"Contohnya, kalau dengan situasi dengan kondisi olahraga seperti saat ini jangan harap punya prestasi yang spektakuler karena memang tidak punya pondasi, tidak punya dasar yang kuat untuk membuat prestasi itu," kata Zainudin dalam konfrensi pers secara virtual, Selasa, 26 Mei 2020.

Ia menyebutkan selama periode menjabat tidak menargetkan prestasi olahraga yang muluk-muluk. "Selama lima tahun, mungkin tidak banyak prestasi, tapi kita akan senang kalau di periode saya ini ada pondasi yang kuat dalam pembinaan olahraga ke depan, bukan hanya secara prestasi tapi juga pembudayaan olahraga," ujarnya.

Sebagai ukuran, ia berharap olahraga bisa menjadi budaya masyarakat Indonesia. Saat ini rata-rata masyarakat hanya berjalan 3.000 langkah setiap harinya padahal standar kebugaran harusnya 7.000 langkah. "Jadi bagaimana mau bugar dan berprestasi?" kata Zainudin.

Ia menyebutkan dalam grand design akan menjelaskan pembinaan atlet usia muda. Mulai dari usia 6-12 tahun serta 12-18 tahun diatur konsep pelatihannya. "Dari youth ke elite bagaimana. Nutrisinya harus bagaimana," ucap Zainudin.

Menurut dia, keinginan membuat grand design dan road map karena Kemenpora melihat olahraga hanya dilakukan untuk memenuhi pencapaian serapan anggaran.

"Contoh jangka pendek, kalau jadi tuan tumah Olimpiade 2032, apa yang disiapkan? Anak-anak 10-13 tahun harus didesign untuk bisa capai peak performance di saat usianya 23-24 tahun," ungkap dia.

Zainudin mengatakan bahwa grand design bisa melahirkan banyak atlet dengan prestasi seperti Lalu Muhammad Zohri di atletik. Menurut dia, prestasi yang dicapai juara Kejuaraan Dunia Atletik Junior itu bukan hasil pembinaan yang sistematis.

"Apalah kita mempersiapkan regenerasi setelah zohri, kemudian Zohri masuk ke elit, ini siapa-siapa lagi, kan belum, kebetulan dia bagus. Tetapi saya melihat ini bukan hasil pabrikan kita, ke depan grand design yang saya maksud adalah mempabrik prestasi. mempabrik orang dari suatu hasil pembinaan," ungkap dia tentang tujuan membuat grand design olahraga nasional.

Menurut dia, pembinaan secara sistematis bakal dipusatkan di Sekolah Khusus Olahraga di Cibubur. Atlet muda, kata Zainudin pada usia SMP dan SMA bakal bersekolah di SKO untuk meningkatkan prestasinya.

Setelah masuk kategori atlet elit, kata dia, bakal dimasukkan ke lokasi lain untuk pembinaan lanjutan. Ia berharap pusat olahraga di Hambalang juga sudah bisa difungsikan untuk mendukung grand design. "Dengan metode sekarang kita mau naik ke-20 besar atau 15 besar Olimpiade tidak akan mungkin," katanya.

IRSYAN HASYIM


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT