Wawancara Pelatih Fisik PBSI Felix Ary: Atlet Bulu Tangkis Juga Manusia Biasa
TEMPO.CO | 20/02/2021 08:01
Pelatih fisik PBSI, Felix Ary Bayu Marta di Cipayung, Jakarta. TEMPO | Hilman Fathurrahman
Pelatih fisik PBSI, Felix Ary Bayu Marta di Cipayung, Jakarta. TEMPO | Hilman Fathurrahman

TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih Fisik PBSI, Felix Ary Bayu Marta, telah mengevaluasi pncapaian para atlet bulu tangkis Indonesia yang berlaga dalam turnamen BWF pada Januari lalu. Tiga turnamen itu yakni Yonex Thailand Open, Toyota Thailand Open, dan BWF World Tour Finals 2020.

Menurut Felix, tim kepelatihan telah menyusun format latihan untuk mempersiapkan atlet yang bakal berlaga di Swiss Open dan All England pada Maret mendatang. Menurut dia, format tersebut diubah karena sejumlah masalah fisik dan mental yang muncul saat turnamen. "Terutama di sektor ganda campuran yang saya pegang langsung, kami menyoroti non teknis sebenarnya," kata Felix kepada Tempo, Selasa, 16 Februari 2021.

Tempo mewawancarai Felix Ary Bayu soal masalah capaian atlet bulu tangkis PBSI di tiga turnamen awal tahun ini. Berikut petikan wawancaranya.

Hasil evaluasi dari tiga turnamen di Thailand, salah satu yang disoroti adalah fisik atlet. Apa mempengaruhi jebloknya penampilan pemain Pelatnas?

Kalau saya lihat kemarin dan juga sudah koordinasi untuk masalah ini, terutama di sektor yang saya pegang langsung yakni ganda campuran, sebenarnya kami menyoroti non teknis. Kami sudah merumuskan hasil evaluasi terutama di putri. Karena waktu yang singkat kami mau coba format baru dalam waktu kurang lebih dua minggu, untuk mengejar target Swiss Open, terutama karena Jerman Open sudah dibatalkan.

 

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali (kanan) mengamati latihan para pebulu tangkis saat meninjau Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta, Kamis 6 Februari 2020. Peninjauan tersebut untuk memantau kesiapan para atlet Pelatnas PBSI yang akan mengikuti Kejuaraan Beregu Asia 2020 di Filipina pada 11-16 Februari 2020 sekaligus sebagai kualifikasi Piala Thomas dan Uber zona Asia. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

 

Apa format dan variasi latihan fisik yang bakal dilakukan?
Dengan waktu yang ada, kami coba mempersiapkan dulu endurance-nya. Di power body untuk yang putri sehingga kami bisa mengombinasikan streght training dengan persiapan masalah endurance-nya. Jadi, memang kami mencoba berinovasi.

 

Baca juga : Bulu Tangkis: Alasan Pelatih Tambah Porsi Latihan Daya Tahan Otot Ganda Putra

Apa ada perbaikan lain selain di ketahanan dan kekuatan atlet?
Kalau latihan, tergantung kami melihat kebutuhan yang ada. Untuk pelatih fisik, kami harus tahu, kalau strenght itu sistemnya seperti apa, endurance sistem seperti apa, akhirnya kami temukan formula latihan yang masuk dari kekurangan yang kita dapat dari evaluasi itu. Jadi kami agak susah, tetapi aling tidak itu bisa menjadi pondasi nanti ke depannya lagi ketika mereka balik dari pertandingan. Kami evaluasi dan persiapkan kembali.

Apakah dengan waktu dua pekan cukup?
Pasti orang bakal bilang tidak mungkin endurance bisa naik dengan waktu mepet. Ya memang. Paling tidak kami sudah melalui dasar atau pondasi yang arahnya ke sana.

Apa format latihan jangka panjang sebagai persiapan menuju Olimpiade Tokyo 2021?
Kalau kita ini pelatnas jangka panjang. Jadi sudah ada sebenarnya konsepnya.

Apa ada variasi dengan kondisi pandemi ini?
Benar memang bahwa kondisi turnamen kemarin beda dengan waktu yang berdekatan, kami selalu mengamati. Kami harus terus berinovasi. Agak tidak enak memang, karena harus bolak-balik mengubah format latihan dan menambahkan variasi. Harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Memang periodesasi ini yang kami lakukan, pasti banyak perubahan dari plan A berubah jadi plan B, lalu kami harus evaluasi lagi sehingga bisa jadi plan C. Itu memang tidak gampang.

Apa yang paling susah dalam menerapkan latihan dalam kondisi pandemi Covid-19?
Dalam kondisi pandemi ini paling penting dan paling susah itu menjaga pikiran dan mood atlet. Kami latihan dengan manusia yang punya pikiran dan mood. Kalau orang bilang bahwa atlet mood-nya harus bagus, tetapi tetap saja mereka manusia yang juga punya ketakutan akan kondisi seperti ini.

Belum lagi dengan atlet muda yang belum tahu kapan mereka bisa bertanding karena banyak pertandingan tiba-tiba sudah dijadwalkan tiba-tiba di-cancel. Itu berdampak ke psikis mereka.

Apakah persoalan psikis bakal berdampak terhadap latihan dan pertandingan yang dijalani atlet?
Betul, saya juga suka gregetan melihat orang di luar sana yang melihat atlet itu super. Kembali lagi atlet itu seperti manusia biasa, tetap kami bakal membantu mereka me-review pikiran-pikiran mereka. Tapi atlet harus bisa menolong diri mereka sendiri. Jadi ini yang kita terus mendorong mereka untuk fight. Saya agak ketawa juga ketika orang mengkritisi anak-anak kami di pelatnas bulu tangkis bermain Tiktok. Saya bilang, apa yang salah dengan TikTok.

Aktivitas yang dilakukan yang tidak memakan waktu lama, juga tidak dikerjakan pada jam istirahat seperti jam 12 atau jam 1 malam. Mereka harus bisa menjaga pikiran supaya bisa tetap segar. Bayangin mereka sudah berbulan-bulan, hampir setahun lebih mereka tidak keluar dari latihan dan lingkungan begitu-begitu saja. Bayangkan saja tingkat kejenuhannya seperti apa saat di pelatnas bulu tangkis PBSI.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT